Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gubernur Sarkawi: Bapak Pemuda Banua, Tokoh di Balik Lahirnya Kalimantan Selatan

Sheilla Farazela • Rabu, 13 Mei 2026 | 06:48 WIB
H Syarkawi bersama isteri dan delapan anaknya. (Koleksi Pangeran H. Sjachsam Sarkawi)
H Syarkawi bersama isteri dan delapan anaknya. (Koleksi Pangeran H. Sjachsam Sarkawi)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Nama H. Sarkawi tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Banua. Ia bukan sekadar birokrat, melainkan tokoh sentral di balik lahirnya Provinsi Kalimantan Selatan setelah dimekarkan dari Provinsi Kalimantan pada 1957.

Lahir di Barabai pada 12 Desember 1907, Sarkawi berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Kiai Ahmad Dahlan, menjabat Kepala District Kelas Satu di Barabai. Garis kepemimpinan itu mengalir dari kakeknya, Demang Yuda Negara, hingga datunya, Kiai Martapati, seorang Patih di Labuan Amas pada masa Kerajaan Banjar.

Pengamat sejarah, Mursalin, dalam buku Profil Gubernur Kalimantan Selatan dari P.M. Noor sampai Sahbirin Noor mengatakan bahwa tak hanya sebagai birokrat, Sarkawi dikenang sebagai Bapak Pemuda karena dedikasinya menyatukan organisasi kepemudaan di masa awal kemerdekaan.

Pendidikan Sarkawi tergolong mentereng di zamannya. Setelah lulus HIS, ia merantau ke Banjarmasin untuk bersekolah di MULO, dan berlanjut ke sekolah pamong praja OSVIA di Makassar.

Momen paling bersejarah terjadi pada 9 Januari 1957. Bertempat di Banjarmasin, dilakukan serah terima jabatan dari Gubernur Kalimantan, R.T.A. Milono, kepada Sarkawi sebagai Acting Gubernur Kalimantan Selatan. Statusnya kemudian diperkuat melalui SK Presiden RI Nomor 504/M Tahun 1957 pada September di tahun yang sama. “Gelar Bapak Pemuda Kalimantan Selatan yang disandangnya bukan tanpa alasan. Sarkawi sangat aktif menghimpun pemuda-pemudi dalam organisasi Pekan Pemuda,” ujar Mursalin.

Tepat pada 17 Agustus 1957, bersama Panglima Teritorial VI Tanjungpura, Kusno Utomo, ia memancangkan tiang pertama pembangunan Gedung Pemuda di Banjarmasin. Dua tahun kemudian, gedung tersebut diresmikan sebagai pusat pergerakan pemuda Banua.

Di sektor infrastruktur, Sarkawi adalah pemrakarsa pembangunan Jembatan 9 November (dulu dikenal sebagai Jembatan Empat Zaman) yang menghubungkan Pasar Lama dengan Seberang Masjid.

Proses pembangunannya penuh perjuangan. Meski sempat terkendala dana dari pusat yang hanya cair Rp7,5 juta dari usulan Rp17,5 juta, Sarkawi tak menyerah. Ia melakukan lobi tambahan biaya hingga akhirnya jembatan tersebut rampung pada tahun 1961.

Tak hanya soal infrastruktur, ia juga peduli pada ketahanan pangan. Sarkawi sempat menginisiasi perkebunan ubi kayu di Tambang Ulang dan membangun pabrik tapioka di Binuang. “Di bidang sosial, ia menjadi penasihat Konferensi Kebudayaan se-Banjarmasin dan memimpin Musyawarah Kerakatan Kalimantan Selatan,” sebutnya.

Sarkawai wafat dan dimakamkan di kompleks keluarga di Jalan Manjang, Barabai. Ia meninggalkan warisan besar. Berdirinya Provinsi Kalimantan Selatan, semangat pemuda, serta fondasi pembangunan yang masih dikenang hingga kini.

Editor : Arief
#Tokoh #sosok inspiratif #kalimantan selatan #Sejarah Banua