Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bamandi-Mandi, Ritus Sakral Budaya Perkawinan Adat Banjar

Maulana Radar Banjarmasin • Senin, 11 Mei 2026 | 09:58 WIB
TRADISI: Calon pengantin sedang melakukan tradisi Bamandi-mandi yang sudah turun-temurun dilakukan sebelum dilakukan resepsi pernikahan. (Maulana)
TRADISI: Calon pengantin sedang melakukan tradisi Bamandi-mandi yang sudah turun-temurun dilakukan sebelum dilakukan resepsi pernikahan. (Maulana)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Bagi masyarakat Banjar dan Bakumpai, perkawinan bukan sekadar penyatuan dua insan. Ada sebuah ritual sakral yang diyakini sebagai pintu masuk menuju kehidupan rumah tangga. Dia adalah bamandi-mandi.

Tradisi turun-temurun ini masih lestari di Barito Kuala, menjadi simbol pembersihan diri sekaligus pengikat ikatan suci. Noorhana (68), warga Marabahan asal Desa Asia Baru, Kecamatan Kuripan, mengisahkan bahwa keluarganya tetap mempertahankan ritual ini.

“Sejak dulu bamandi-mandi selalu dilakukan di perkawinan keluarga, termasuk saat saya menikah,” ujarnya.

Ia percaya, meninggalkan prosesi ini bisa membawa kesulitan bagi pasangan pengantin. “Kami menyebutnya dipingit. Bisa sakit atau mengalami kesusahan,” yakinnya.

Bamandi-mandi biasanya digelar di halaman rumah atau bahkan di pinggir jalan, sehingga menjadi tontonan warga. Perlengkapan yang disiapkan pun sarat makna. Seperti mayang urai, empat batang tebu sebagai pembatas, benang kuning, tombak, kelapa tua, telur ayam kampung, hingga air tampung tawar bercampur wewangian.

Ada pula air khusus yang disebut air buaya, diambil dari sungai dengan ritual menukar air menggunakan telur ayam kampung. Tak kalah unik, sejumlah uang dan kue digantung pada benang kuning yang melingkari tempat mandi calon pengantin.

Prosesi dimulai dengan kedua mempelai mengelilingi tempat mandi tujuh kali, diiringi tujuh sesepuh yang memercikkan air tampung tawar sambil berselawat. Setelah itu, mereka dimandikan bergantian, disiram air ritual, dan dipukul dengan mayang sebagai simbol pembersihan diri.

Rangkaian ritual berlanjut dengan memecahkan kelapa tua, airnya diminum bersama, lalu melangkahi benang kuning tujuh kali. Pasangan juga berebut menginjak telur ayam kampung. Siapa yang lebih dulu memecahkannya dipercaya akan lebih dominan dalam rumah tangga. Menjelang akhir ritual, warga berebut kue, uang, dan mayang sebagai simbol keberuntungan.

Tahap penutup dilakukan di dalam rumah. Pengantin berganti pakaian, wajah dioles bedak, diberi wewangian, rambut disisir, lalu berkaca dengan lilin menyala. “Itu refleksi diri, tanda kesiapan menghadapi kehidupan rumah tangga,” imbuhnya.

Antropolog Universitas Lambung Mangkurat, Nasrullah, menilai bamandi-mandi sebagai warisan budaya Kerajaan Banjar yang masih bertahan. “Tradisi ini menunjukkan bahwa kedua calon pengantin sudah saling memiliki dan terikat. Karena itu dilakukan di keramaian, agar orang lain tahu mereka tak boleh lagi didekati,” jelasnya.

Dalam perspektif antropologi, perkawinan adalah ritus peralihan menuju status sosial baru. “Perkawinan itu momen suci. Dengan tradisi seperti bamandi-mandi, masyarakat ingin menegaskan bahwa perkawinan adalah peristiwa besar,” tandasnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#adat banjar #Budaya #kalimantan selatan #perkawinan