Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mastora, Pejuang Wanita Kalimantan yang Nyaris Terlupakan

M Idris Jian Sidik • Kamis, 7 Mei 2026 | 09:04 WIB
HEROIK: Mastora, pejuang wanita Tentara Divisi IV ALRI Kalimantan yang berhasil menjebak 60 tentara KNIL Belanda dalam pertempuran di Mendawai, November 1949.
HEROIK: Mastora, pejuang wanita Tentara Divisi IV ALRI Kalimantan yang berhasil menjebak 60 tentara KNIL Belanda dalam pertempuran di Mendawai, November 1949.

TAHULAH Pian. Di balik deretan nama pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah, ada sosok perempuan Kalimantan Selatan yang keberaniannya hampir luput dari ingatan bangsa. Ia adalah Mastora.

Dia adalah pejuang wanita dari Tentara Divisi IV Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) Kalimantan, yang pada November 1949 menjadikan sebuah jembatan di Mendawai sebagai panggung pertempuran heroik.

“Mastora adalah bukti nyata bahwa perlawanan terhadap penjajahan tidak hanya dilakukan kaum laki-laki. Perempuan Banua pun berdiri di garis terdepan dengan keberanian dan pengorbanan luar biasa. Sudah seharusnya kita mengenal dan mengenang kisahnya,” ujar Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur.

Ia menceritakan, sore di November 1949 itu, sekitar pukul 17.00, langit Mendawai memerah. Mastora melangkah di atas jembatan dengan wajah tenang dan senyum lembut. Tak seorang pun mencurigainya. Di balik kerudung dan sanggulnya terselip sepucuk pistol.

Enam puluh tentara KNIL melintas dengan percaya diri. Saat barisan mereka sempurna berada di atas jembatan, Mastora mengangkat tangannya. Satu tembakan meletus, memecah kesunyian senja. Seketika, para pejuang yang bersembunyi di sekitar jembatan menyerbu.

Dentuman senjata menggema hingga menjelang Isya. Pertempuran berakhir dengan kemenangan rakyat. Sebanyak  24 tentara KNIL tumbang, sementara dari pihak pejuang tidak ada korban jiwa.

Menurut Ersa, aksi Mastora mencerminkan strategi perlawanan rakyat Kalimantan yang mengandalkan kecerdikan di tengah keterbatasan persenjataan. “Mastora mengajarkan bahwa perlawanan tidak selalu frontal. Ia menggunakan kecerdikan, keberanian, dan kepercayaan diri sebagai senjata utama,” jelasnya.

Ersa menekankan pentingnya mengenalkan kisah Mastora kepada generasi muda. “Sangat disayangkan jika kisah seperti Mastora hanya tersimpan dalam arsip. Kita perlu aktif menggali dan menyebarkan cerita heroik dari Bumi Lambung Mangkurat agar identitas dan kebanggaan masyarakat Banjar tetap hidup,” katanya. (bir/mof)

Editor : Arief
#Tokoh #belanda #kalimantan selatan #Perempuan #Sejarah