RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Di dermaga Desa Rampa, Kecamatan Pulau Laut Utara, denyut kehidupan Suku Bajau Samah berpadu dengan riak ombak dan tiang-tiang kayu ulin yang menyangga ribuan rumah panggung di atas air. Bagi mereka, laut bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan ruang sakral yang menyatu dengan napas mereka.
Sejarah Suku Bajau Samah terselimuti kabut legenda. Konon, nenek moyang mereka berasal dari Johor, Malaysia. Kisah bermula ketika Putri Pa’pu, putri kerajaan Bajau, menghilang secara misterius setelah cintanya pada seorang nelayan bernama Maruni ditolak oleh sang raja.
Murka sekaligus duka, sang raja memerintahkan rakyatnya berlayar ke segala penjuru untuk mencari sang putri. Pelayaran panjang itu membawa mereka hingga ke Filipina, Sulawesi, dan akhirnya ke pesisir Kalimantan.
Putri Pa’pu tak pernah ditemukan, namun pencarian berubah menjadi perjalanan menetap. Sebagian besar pelaut Bajau memilih berdiam di pesisir kaya hasil laut, termasuk Kotabaru.
Tokoh masyarakat sekaligus Sandro (tetua adat) Bajau, Hamdani, menuturkan bahwa pemukiman di Kotabaru mulai terbentuk sejak 1949 di bawah kepemimpinan Dome, kepala desa pertama. Identitas “Samah” yang mereka bawa bukan tanpa makna.
"Kami membawa nama Samah bukan tanpa alasan. Samah itu artinya sama rata. Di komunitas kami, tidak ada sekat kasta, tidak ada yang merasa lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Itulah filosofi yang menjaga kami tetap rukun hingga sekarang," jelas Hamdani.
Ketangguhan pria Bajau tercermin dalam teknik melaut yang diwariskan turun-temurun. Dari pancing rawai dengan ratusan mata kail, pancing tonda untuk ikan permukaan, hingga teknik menangkap cumi.
Kini, Jaring Hela Dasar menjadi alat tangkap utama yang menopang ekonomi warga. Hamdani menyebut, disiplin sebagai kunci keselamatan. “Di laut, persiapan adalah nyawa. Mesin itu jantung kami, jaring itu harapan kami,” ujarnya.
Sementara para pria bertaruh nasib di samudera, para ibu nelayan menjadi tulang punggung di daratan. Mereka sigap memilah hasil tangkapan, menjual segar ke tengkulak, dan mengolah sebagian menjadi ikan asin. Di bawah terik matahari pesisir, ikan-ikan dijemur di atas lanjung bambu, menghasilkan ikan asin premium yang menjadi komoditas unggulan Kotabaru.
Bagi anak-anak Bajau, laut adalah taman bermain alami. Saat pasang, kolong rumah panggung berubah menjadi kolam renang raksasa. Dengan tawa lepas, mereka melompat dari jembatan, berenang lincah seolah air adalah elemen bawaan sejak lahir.
Kini, populasi Suku Bajau Samah di Kotabaru diperkirakan mencapai 20 ribu jiwa. Pusat keramaian berada di Desa Rampa Pulau Laut Utara. Namun, persebaran mereka meluas hingga Rampa Cengal di Pamukan Selatan, Rampa Kapis di Desa Batu Tunau, dan Rampa di Pulau Sebuku. Meski terpisah jarak, ikatan persaudaraan tetap kuat.
Desa Rampa berdiri kokoh sebagai benteng terakhir tradisi bahari di Kalimantan Selatan. Sejarah, legenda, dan realita ekonomi berkelindan menjadi satu. Lewat tangan terampil nelayan dan bimbingan para tetua, identitas Bajau Samah diyakini tak akan luntur meski dihantam zaman. “Laut adalah rumah kami yang sesungguhnya. Selama ombak masih memanggil, selama itulah kami menjaga ritme kehidupan di atas gelombang,” tutup Hamdani.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief