Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Masjid Besar Al Mujahidin HSS, Simpan Kisah Sejarah Perjuangan Rakyat Kalsel

M Padil Ihsan • Senin, 4 Mei 2026 | 13:21 WIB
WARISAN SEJARAH: Masjid Besar Al-Mujahidin di Desa Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menyimpan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. (Foto: M Padil Ikhsan)
WARISAN SEJARAH: Masjid Besar Al-Mujahidin di Desa Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menyimpan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. (Foto: M Padil Ikhsan)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Masjid Besar Al-Mujahidin di Desa Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), tak hanya menjadi pusat ibadah. Lebih dari itu, masjid ini menyimpan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan.

Masjid yang didirikan pada tahun 1911 ini menjadi saksi bisu perjalanan panjang masyarakat dalam mempertahankan iman sekaligus memperjuangkan kemerdekaan. Bangunan masjid seluas 640 meter persegi di atas lahan 1.019 meter persegi ini didirikan oleh tokoh masyarakat setempat, di antaranya Datu Pancau, Datu Campa, Su’abas, Gulu Arsan, H. Abdul Kadir, dan H. Sukeri.

Beberapa di antara mereka dikenal sebagai pejuang yang turut menggerakkan semangat perlawanan terhadap penjajahan. Nama “Al-Mujahidin” yang berarti para pejuang bukan sekadar simbol. Masjid ini menjadi tempat berkumpul para pejuang, menyusun strategi, berdoa, dan memperkuat tekad melawan penindasan. “Masjid ini bukan sekadar simbol ibadah. Tapi memiliki nilai historis yang sangat penting,” terang bekas ketua masjid alm Yusuf Syu'aib tahun 2023 lalu.

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan ALRI Divisi IV 17 Mei 1949, masjid ini bahkan pernah menjadi lokasi persembunyian Brigjen (Purn) H. Hassan Basry, tokoh penting perjuangan Kalimantan Selatan.

Selain nilai historis, Masjid Al-Mujahidin juga menyimpan kekayaan arsitektur tradisional Banjar yang berpadu dengan sentuhan Nusantara klasik. Atap tumpang bertingkat menjadi ciri khas masjid tradisional di Kalimantan dan Jawa, sementara kubah berbentuk bawang menunjukkan pengaruh arsitektur Melayu dan Asia Selatan.

Keunikan lain tampak pada material kayu dan ukiran tradisional yang menghiasi pagar, ventilasi, serta ornamen bangunan. Detail-detail tersebut mencerminkan kekayaan budaya Banjar yang masih terjaga hingga kini.

Lebih dari seabad berdiri, Masjid Besar Al-Mujahidin tetap berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus simbol perjuangan. Keberadaannya kini telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #hulu sungai selatan #Masjid #Sejarah