RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, TAHULAH Pian. Runtuhnya Benteng Manawing pada Januari 1905 menjadi penanda berakhirnya sistem pertahanan Pagustian, yang disebut sebagai dewan pertahanan terakhir Kerajaan Banjar. Peristiwa ini sekaligus menutup babak panjang perlawanan bersenjata di sepanjang Sungai Barito.
Benteng Manawing, yang terletak di Kampung Bomban, Kalang Barat, kawasan hulu Barito, bukan sekadar basis militer. Ia adalah simbol eksistensi pemerintahan Banjar di pedalaman, dipertahankan langsung oleh Sultan Mohammad Seman. Penerus perjuangan Pangeran Antasari yang tetap menjalankan pemerintahan dalam pelarian setelah pusat kekuasaan jatuh ke tangan kolonial.
“Benteng Manawing itu bukan sekadar basis pertahanan, tapi simbol terakhir eksistensi pemerintahan Banjar di pedalaman,” ujar pemerhati sejarah Banjar, Dharma Setyawan.
Sistem Pagustian dibangun sejak 1865 oleh Tumenggung Surapati, tiga tahun setelah wafatnya Pangeran Antasari. Benteng-benteng rakyat tersebar di pedalaman, termasuk di Gunung Bondang dan Manawing, menjadi basis perlawanan yang menyatukan berbagai kekuatan lokal. Setelah Surapati wafat pada 1875, jaringan ini tetap berjalan hingga awal abad ke-20.
Namun, pada 1905 Belanda melancarkan operasi besar-besaran untuk menumpas sisa perlawanan di Barito. Serangan penentu dipimpin Letnan Chrisofel, perwira berpengalaman dari Perang Aceh, dengan pasukan elite marsose dalam jumlah besar. Pertempuran menjadi timpang.
Dalam kondisi genting, Panglima Batur (Komandan kepercayaan sultan) tidak berada di lokasi karena menjalankan misi mencari mesiu ke Kerajaan Pasir. Pertahanan pun melemah. Sultan Mohammad Seman akhirnya gugur tertembak di medan perang, tetap memegang teguh amanat “haram manyarah, waja sampai kaputing.”
Gugurnya sang sultan bukan sekadar kehilangan pemimpin, melainkan juga berakhirnya kedaulatan Banjar dalam bentuk pemerintahan bergerak. Benteng Manawing yang hancur menjadi saksi bisu runtuhnya pertahanan terakhir.
Sepulang dari misi, Panglima Batur mendapati benteng luluh lantak dan sultannya gugur. Ia melanjutkan perlawanan sporadis bersama tokoh lain, termasuk Panglima Umbung. Namun, pada 24 Agustus 1905 ia tertangkap Belanda melalui jebakan kerabatnya sendiri.
Setelah diarak di Banjarmasin sebagai simbol kemenangan kolonial, Panglima Batur dijatuhi hukuman gantung pada 15 September 1905. Permintaan terakhirnya sederhana. Dibacakan dua kalimat syahadat.
Jenazahnya dimakamkan di belakang Masjid Jami Banjarmasin, sebelum dipindahkan ke Kompleks Makam Pahlawan Banjar pada 1958.
Sejak 1905, tidak ada lagi struktur kekuasaan Banjar yang bertahan. Runtuhnya Benteng Manawing menandai berakhirnya Perang Barito. Fase terakhir dari Perang Banjar yang berlangsung panjang. Kendati demikian, semangat perjuangan tidak padam. Perlawanan gerilya masih berlanjut melalui tokoh-tokoh seperti Ratu Zaleha dan Bukhari.
“Benteng Manawing tercatat dalam sejarah sebagai simbol runtuhnya pertahanan terakhir, namun semangat perjuangan tetap hidup,” terang Dharma.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief