Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mutiara Theater, Gedung Bioskop di Jantung Kota Pelaihari Tanah Laut

Norsalim Yahya • Senin, 27 April 2026 | 08:50 WIB
SEJARAH: Inilah penampakan bagian dalam ruangan Mutiara Theater, bioskop yang pernah berdiri di jantung Kota Pelaihari

 | Foto : Istimewa
SEJARAH: Inilah penampakan bagian dalam ruangan Mutiara Theater, bioskop yang pernah berdiri di jantung Kota Pelaihari | Foto : Istimewa

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, -  Di persimpangan Jalan Gembira, pusat Kota Pelaihari, denyut hiburan pernah berpusat pada sebuah bangunan sederhana bernama Mutiara Theater. Pada era 1980-an, tempat ini bukan sekadar gedung bioskop, melainkan ruang berkumpul, berbagi tawa, hingga menyaksikan cerita dari layar lebar yang kala itu menjadi hiburan utama masyarakat.

Kini, jejak kejayaannya nyaris tak tersisa. Lokasinya telah beralih fungsi menjadi kawasan pasar sayur dan permukiman warga. Namun, ingatan tentang riuhnya antrean penonton dan gemuruh suara film masih hidup dalam benak mereka yang pernah merasakannya.

Salah satu saksi sejarah, Frangky Kuswandi Rahmat mengenang bagaimana bioskop itu berdiri dari bangunan sederhana milik ayahnya, almarhum Tinus Koeswandi Rahmat. Awalnya, bangunan tersebut hanyalah gudang semi permanen dengan dinding papan dan atap sederhana. “Bagian bawahnya dari semen, dindingnya papan kayu. Sebelum jadi bioskop, pernah dipakai sebagai Gudang. Bahkan sempat dikaitkan dengan penggunaan oleh Kodim 1009,” ujarnya.

Pada 1984, bangunan itu mulai disulap menjadi bioskop melalui kerja sama dengan distributor film. Fasilitasnya pun jauh dari kesan mewah. Kursi kayu berjajar rapi dengan nomor tempat duduk, serta ruang proyektor di lantai dua. Namun, keterbatasan itu tak menyurutkan minat masyarakat.

Harga tiket kala itu tergolong terjangkau. Pada era 1990-an, penonton cukup merogoh kocek antara Rp250 hingga Rp1.000. Untuk film box office, harga tiket bisa mencapai Rp5.000. Mutiara Theater biasanya menggelar dua kali pemutaran setiap hari. Namun, akhirnya hanya bertahan pada jadwal malam, karena minimnya penonton di sore hari.

Momen-momen tertentu seperti Hari Raya Idulfitri dan Tahun Baru menjadi waktu paling dinanti. Antusiasme penonton meningkat, terutama saat film-film populer diputar. Mulai dari komedi Warkop DKI, film Rhoma Irama, hingga film aksi laga Hong Kong dan Barat.

Tak hanya menyajikan hiburan, Mutiara Theater juga sempat menjadi sarana edukasi. Pelajar tingkat SD dan SMP pernah diwajibkan menonton film bertema sejarah perjuangan bangsa pada pemutaran khusus di pagi hari.

Di luar gedung bioskop, masyarakat Pelaihari kala itu juga akrab dengan hiburan alternatif. Pemutaran kaset video menjadi pilihan lain, meski hanya bisa diakses kalangan tertentu karena harga perangkat yang relatif mahal. Namun, warga tetap bisa menikmati tontonan dengan membayar sekitar Rp100 per orang, atau menyewa kaset seharga Rp1.000.

Selain itu, layar tancap atau yang dikenal dengan istilah “misbar” (gerimis bubar) juga menjadi hiburan rakyat yang meriah, seperti yang pernah digelar di Desa Panggung dan Kunyit.

Promosi film pun dilakukan dengan cara sederhana namun khas. Setiap sore, mobil pikap berkeliling kota membawa poster film yang akan diputar malam harinya, disertai suara pengeras yang mengundang warga dengan ajakan, “Saksikan bersama Mutiara Theater.”

Namun, memasuki pertengahan 1990-an, perlahan pamor bioskop ini meredup. Kehadiran antena parabola dan siaran televisi swasta membuat masyarakat memiliki lebih banyak pilihan hiburan di rumah. Ditambah lagi dengan munculnya jaringan bioskop modern, jumlah penonton terus menurun. “Selain karena parabola, juga karena persaingan dengan bioskop modern dan tayangan televisi yang semakin beragam,” kata Frangky.

Hingga akhirnya, pada 1997, Mutiara Theater resmi menutup layar terakhirnya. Meski bangunannya telah hilang, Mutiara Theater tetap menjadi bagian penting dari sejarah hiburan masyarakat Tanah Laut.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
#bioskop #kalimantan selatan #Tanah Laut #Film #Sejarah