RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, - Tahulah Pian, Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), dikenal sebagai pusat seni tradisional yang dijuluki “Kampung Seniman”. Desa ini telah lama menjadi tempat berkembangnya Tari Topeng Barikin, sebuah warisan budaya yang diyakini telah ada sejak abad ke-14, pada masa Kerajaan Dipa dan Kerajaan Daha, dan dikembangkan oleh tokoh karawitan, Datu Taruna.
Sejak awal kemunculannya, Tari Topeng Barikin klasik memiliki fungsi yang sangat sakral. Tarian ini digunakan untuk kepentingan ritual seperti tolak bala dan batatamba (pengobatan tradisional).
Karena sifatnya yang sakral, pertunjukan tidak dapat dilakukan sembarangan, baik dari segi waktu maupun tempat. Selain itu, seluruh unsur dalam pertunjukan juga bersifat baku atau pakem. Mulai dari ragam gerak, musik pengiring, hingga kostum yang digunakan.
Pelaku seni asal Barikin, Lupi Anderiani menjelaskan bahwa pada awalnya di Desa Barikin hanya dikenal tari topeng klasik yang sakral tersebut. “Pakem dalam artian sudah baku dari ragam dan musiknya tidak bisa diubah. Orang terdahulu memang sengaja menciptakan tarian ini ada tujuan tertentu, bukan muncul dengan sendirinya,” ujarnya, Selasa (21/4).
Berangkat dari kondisi tersebut, Lupi berinisiatif menciptakan inovasi agar seni tari topeng tetap lestari dan dapat dinikmati lebih luas oleh masyarakat, tanpa menghilangkan nilai sakral dari bentuk aslinya. “Dari situ saya terpikir untuk membuat satu perkembangan supaya tari topeng Banjar itu bisa lestari dan berkembang. Dalam artian bisa ditampilkan di mana saja, dan pada saat apa saja,” lanjutnya.
Gagasan tersebut melahirkan Tari Topeng Srikandi, sebuah tarian kreasi baru yang berada di luar pakem klasik. Dalam pengembangannya, Lupi mengambil tokoh Srikandi dari cerita wayang Mahabharata, yang dinilai memiliki ruang kreativitas lebih luas.
“Muncul ide atau gagasan membuat tarian topeng yang di luar pakem tadi. Saya mengambil tokoh dari cerita wayang yakni Srikandi. Karena di wayang Mahabarata pakemnya lebih longgar dan tidak terikat. Ada istilahnya pakem carangan. Kita membuat karya baru dari yang klasik digarap ulang dari kostum, iringannya juga khusus. Gamelannya dinamakan Ketawang Srikandi, untuk dibuat khusus tari topeng Srikandi,” jelasnya.
Inovasi ini menjadi bentuk adaptasi penting dalam pelestarian budaya. Fungsi ritual dan hiburan dipisahkan secara bijak.
Tari Topeng Srikandi memungkinkan pertunjukan dilakukan di berbagai kesempatan, tanpa melanggar nilai sakral dari Tari Topeng Barikin klasik.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief