Kopi Lokpaikat: Dulu Terpuruk, Kini jadi Harapan Baru Para Petani

Rasidi Fadli • Dipublikasikan Selasa, 21 April 2026 | 10:41 WIB
TUMBUH: Kopi Liberika yang tumbuh di desa-desa yang ada di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin.
TUMBUH: Kopi Liberika yang tumbuh di desa-desa yang ada di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin.

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, - Kopi di Kecamatan Lokpaikat bukan sekadar komoditas. Ia menyimpan jejak panjang perjalanan, dari masa kejayaan, keterpurukan, hingga kini kembali bangkit menjadi harapan baru bagi petani.

Kepala Bappelitbang Tapin, Meidy Harris Prayoga mengungkapkan kopi mulai diperkenalkan di wilayah ini sejak era Orde Baru. Tepatnya pada program transmigrasi tahun 1970-an, di masa Soeharto.

Saat itu, kopi jenis robusta ditanam bersama cengkeh dan kelapa. Namun hasilnya dinilai kurang memuaskan. Memasuki 1980-an, arah perkebunan bergeser. Karet mulai mendominasi, membuat lahan kopi perlahan ditinggalkan.

Puncaknya terjadi pada 2000-an. Harga cengkeh anjlok, karet menjadi primadona, sementara kopi hanya ditanam untuk konsumsi sendiri. Bahkan kerap dijadikan jamu. Masuknya kopi instan murah semakin menekan eksistensi kopi lokal.

Namun, situasi mulai berubah pada 2015. Harga kopi perlahan naik, petani kembali melirik komoditas ini. Mereka menanam kopi di sela kebun karet. Kali ini dengan jenis liberika lokal yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan. “Jenis ini diduga sudah lama beradaptasi di Lokpaikat. Bahkan kemungkinan sejak era kolonial,” ujar Meidy.

Catatan sejarah memperkuat dugaan itu. Pada 1900, produksi kopi liberika di wilayah ini disebut pernah mencapai 900 kilogram. Bibit yang digunakan petani dari lingkungan sekitar, bukan dari luar daerah.

Perlahan, geliat kopi kembali terasa. Lahan mulai meluas, sistem tanam sela berkembang. Namun, keterbatasan pengetahuan pascapanen, bibit unggul, dan akses pasar masih menjadi hambatan. Bahkan, tidak sedikit petani yang kembali meninggalkan kebun kopi mereka.

Momentum kebangkitan datang pada 2024–2025. Harga kopi melonjak tajam, dari sekitar Rp25 ribu per kilogram pada 2019, menjadi Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.

Kenaikan ini kembali membangkitkan semangat petani. Dukungan pemerintah daerah, program CSR swasta, hingga munculnya komunitas kopi lokal ikut memperkuat geliat tersebut. Kopi liberika Lokpaikat pun mulai dilirik sebagai komoditas unggulan.

Secara geografis, kopi ini tumbuh di dataran rendah hingga 150 meter di atas permukaan laut, dengan tanah lempung berpasir dan curah hujan stabil—kondisi ini ideal untuk menghasilkan kopi berkualitas.

Cita rasanya pun khas: karamel, madu, gula merah, cokelat, dengan sentuhan pahit di akhir. Karakter inilah yang menjadi daya tarik utama.

Meski begitu, tantangan masih ada. Akses pasar yang terbatas membuat petani bergantung pada tengkulak, sehingga harga kerap ditentukan sepihak.

Untuk itu, langkah strategis mulai ditempuh. Salah satunya pengajuan Indikasi Geografis (IG) sebagai upaya perlindungan sekaligus penguatan branding kopi Lokpaikat di pasar yang lebih luas. “Tidak cukup hanya menanam. Harus ada penguatan dari hulu ke hilir, termasuk pemasaran,” tegas Meidy.

Kini, kopi di Lokpaikat bukan lagi sekadar tanaman sela. Ia perlahan kembali menjadi identitas, sumber ekonomi, sekaligus harapan masa depan bagi masyarakat setempat.

Editor: Eddy Hardiyanto

Editor : Arief
Sumber : RADAR BANJARMASIN edisi cetak
petani kalimantan selatan Kopi Tapin