Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Desa Awayan di Balangan: Dari Interaksi Sosial Pendatang, Begini Sejarahnya

M Dirga • Senin, 20 April 2026 | 09:00 WIB
PUSAT PELAYANAN: Kantor Desa Awayan yang menjadi pusat pelayanan masyarakat dan simbol pemerintahan desa yang mandiri sejak resmi berdiri pada tahun 1975.
PUSAT PELAYANAN: Kantor Desa Awayan yang menjadi pusat pelayanan masyarakat dan simbol pemerintahan desa yang mandiri sejak resmi berdiri pada tahun 1975.

TAHULAH Pian. Desa Awayan di Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan. Desa yang kini ramai aktivitas masyarakat ini ternyata menyimpan kisah unik tentang perdagangan dan kesunyian di masa lampau.

Sebagai desa induk pertama di wilayah kecamatan, Awayan memiliki luas sekitar 2 kilometer persegi. Letaknya berbatasan dengan Desa Awayan Hilir di utara, Desa Putat Basiun di selatan, dan Sungai Pitap di barat sebagai pembatas alami. Kini, sekitar 500 jiwa bermukim di desa tersebut.

Menurut Pamong Budaya Disdikbud Balangan, Halianur, nama Awayan berasal dari kata awai atau hawai yang berarti sunyi. Dahulu, wilayah ini menjadi tempat singgah para pedagang dari Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Mereka mendirikan pondok-pondok kecil untuk beristirahat. Namun, ketika para pedagang pulang serentak ke kampung halaman, suasana desa berubah sepi. “Dari kondisi inilah muncul istilah kehawaian yang kemudian berkembang menjadi Awayan.” ungkap Halianur.

Karakteristik wilayah yang tenang semakin menguatkan identitas nama tersebut. Seiring waktu, pembangunan mulai mengubah wajah desa. Pada 1970-an, desa-desa sekitar memisahkan diri untuk membentuk pemerintahan mandiri.

Awayan sendiri resmi berdiri sebagai entitas administratif pada 1975, dengan H. Ahmad Gazali sebagai kepala desa pertama.

Meski namanya berarti sepi, Awayan kini jauh dari kesan tersebut. Sekitar 70 persen masyarakatnya bergerak di sektor perdagangan, sementara sisanya bekerja sebagai pegawai dan petani. Pasar tradisional yang buka setiap Sabtu menjadi pusat perputaran ekonomi, ditambah produk unggulan berupa telur asin yang memperkuat identitas desa sebagai sentra perdagangan.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #Balangan #Disdikbud Balangan #Desa #Sejarah