RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BATULICIN - Tradisi Mappanre Ri Tasi’e di Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu, kembali digelar dan resmi dibuka pada Ahad (12/4/2026) malam. Di balik kemeriahannya, tersimpan sejarah panjang budaya masyarakat nelayan Bugis.
Tradisi ini berakar dari ritual kuno bernama Mappanretasi atau Massorong yang telah dilakukan sejak abad ke-19. Ritual tersebut menjadi wujud syukur atas hasil laut, pertanian, dan perkebunan yang melimpah.
Bagi nelayan, Mappanretasi merupakan ungkapan terima kasih atas hasil tangkapan ikan yang diberikan alam.
Prosesi adat biasanya dipimpin oleh sandro atau pemuka adat, didampingi para dayang. Rangkaian dimulai sejak malam dengan persiapan makanan tradisional seperti ketan, sebelum mencapai puncak ritual di laut.
Pada puncaknya, rombongan menuju titik tertentu di laut untuk melaksanakan doa bersama. Setelah itu, dilakukan prosesi melarung, yakni menghanyutkan sesaji ke laut sebagai simbol rasa syukur yang diwariskan turun-temurun.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini mengalami penyesuaian. Pemerintah daerah kemudian mengemasnya sebagai agenda budaya dan pariwisata yang masuk dalam rangkaian Hari Jadi Tanah Bumbu.
Perubahan juga terjadi pada istilah. Mappanretasi yang berarti “memberi makan laut” kini dikenal sebagai Mappanre Ri Tasi’e atau “makan bersama di laut”, guna menyesuaikan dengan nilai keagamaan.
Meski demikian, makna utama tradisi sebagai bentuk syukur masyarakat pesisir tetap dipertahankan.
Ketua Lembaga Adat Ade Ogi, Fawahisah Mahabatan, menegaskan pentingnya menjaga tradisi ini sebagai warisan budaya.
“Ini amanah bagi kami untuk terus menjaganya,” ujarnya.
Ia berharap generasi muda tetap melestarikan tradisi tersebut, termasuk prosesi melarung yang menjadi inti dari perayaan budaya masyarakat nelayan Pagatan.
Editor : Eddy Hardiyanto