Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ada 5 Kompleks Pemakaman Bersejarah di Kotabaru, Salah Satunya Pemakaman Belanda

Jumain Radar Banjarmasin • Kamis, 9 April 2026 | 08:44 WIB
SEJARAH: Makam Raja Raja Pulau Laut. Salah satu makam yang bersejarah di Kotabaru. (Jumain/ Radar Banjarmasin.
SEJARAH: Makam Raja Raja Pulau Laut. Salah satu makam yang bersejarah di Kotabaru. (Jumain/ Radar Banjarmasin.

TAHULAH Pian. Kabupaten Kotabaru tidak hanya dianugerahi bentang alam yang memukau. Di balik garis pantai yang panjang dan gugusan pegunungan Meratus, daerah berjuluk Bumi Sa-Ijaan ini menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa.

Salah satu pintu masuk untuk mengenal masa lalu daerah ini adalah melalui wisata religi dan sejarah berupa makam-makam kuno yang tersebar di berbagai pelosok.

Setidaknya ada lima kompleks pemakaman bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan kekuasaan, mulai dari era Kesultanan Banjar, kerajaan lokal Pulau Laut, hingga masa pendudukan Belanda. Situs-situs ini bukan sekadar tumpukan batu nisan, melainkan identitas yang masih dikunjungi peziarah dari berbagai penjuru Kalimantan.

Berjarak hanya sepuluh menit dari hiruk pikuk pusat kota Kotabaru, tepatnya di Desa Sigam, berdiri tegak sebuah kompleks pemakaman yang sangat dihormati. Di sanalah bersemayam Pangeran Jaya Sumitra, Raja Pertama Kerajaan Pulau Laut. Makam ini merupakan tujuan utama bagi mereka yang ingin menapak tilas asal-usul pemerintahan di pulau ini.

Setiap akhir pekan tidak pernah sepi dari peziarah. Tidak hanya warga lokal, mereka yang datang berasal dari lintas provinsi, seperti, Hulu Sungai, Samarinda, Balikpapan, hingga dari Banjarmasin.

Aksesnya yang strategis di jalur menuju Pantai Gedambaan, menjadikan makam ini sebagai destinasi wisata religi yang paling mudah dijangkau oleh wisatawan.

Bergeser jauh ke pedalaman, tepatnya di Desa Limbuang, Kecamatan Hampang, terdapat makam yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi bagi warga Kalimantan Selatan. Di sana terletak pusara Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah, Raja Banjar ke-10. Secara silsilah, ia merupakan datu (kakek buyut) dari pahlawan nasional Pangeran Antasari.

Perjalanan menuju makam ini memang membutuhkan perjuangan ekstra. Dari Pelabuhan Feri Tarjun, dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan darat. Makam ini dijaga oleh dinding-dinding alam berupa batuan kapur Meratus yang menjulang tinggi, dengan kanan-kiri jalur berupa hamparan perkebunan jagung dan jeruk yang asri.

Kecamatan Kelumpang Hulu juga menyimpan sejarah yang tak kalah menarik. Di Desa Banua Lawas, terdapat kompleks kubur besar yang merupakan makam keluarga Kerajaan Cantung.

Nama Banua Lawas sendiri merujuk pada status daerah ini yang di masa lampau merupakan pusat pemerintahan atau pusat kota Cantung sebelum akhirnya berpindah.

Masih di wilayah yang sama, tepatnya di Bangkalaan Melayu, Desa Batu Ganting, terdapat makam Pangeran Agung. Keunikan makam ini adalah sepasang nisan yang terbuat dari kayu ulin berukuran besar. Meski telah dimakan usia dan terpapar cuaca ekstrem selama puluhan tahun, kayu ulin tersebut tetap kokoh berdiri, menandakan betapa mulianya sosok yang dimakamkan di sana pada masanya.

Namun, tidak semua makam bersejarah di Kotabaru memiliki keterkaitan dengan kerajaan lokal. Di Desa Sebelimbingan, Kecamatan Pulau Laut Utara, terdapat Makam Belanda yang menjadi bukti otentik adanya aktivitas kolonial di daerah ini.

Sebelimbingan memang dikenal dalam catatan sejarah sebagai pusat pemukiman dan pertambangan di awal abad ke-20. Makam ini berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Kotabaru. Sayangnya, kondisi saksi sejarah ini cukup memprihatinkan.

Karena berada di atas tanah milik warga yang ditanami pohon Karet, perawatannya tidak maksimal dan mulai tertutup semak. Padahal, hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki dari pinggir jalan raya untuk mencapai lokasi nisan-nisan bergaya Eropa ini.

Sumaryo, penjaga Makam Raja-Raja Pulau Laut di Desa Sigam menerangkan, arus peziarah ke situs sejarah di Kotabaru sangat tinggi, terutama di Desa Sigam. Ia mencatat, dalam satu bulan total kunjungan peziarah bisa menembus angka 1.000 orang lebih. “Selama saya menjaga di sini, alhamdulillah respons masyarakat bagus. Mereka hampir rata-rata mengatakan kalau ziarah itu memang panggilan jiwa, rasanya seperti dipanggil untuk datang ke sini,” jelasnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Kotabaru #kalimantan selatan #Tahulah Pian #makam #Sejarah