Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Situs Makam Raja-Raja Pulau Laut, Potensi Sejarah yang Menanti Sentuhan Pemerintah

Jumain Radar Banjarmasin • Rabu, 8 April 2026 | 15:30 WIB
SEJARAH: Kondisi Makam Kerajaan Pulau Laut yang ada di Desa Sigam.
Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin. 
SEJARAH: Kondisi Makam Kerajaan Pulau Laut yang ada di Desa Sigam. Foto: Jumain/ Radar Banjarmasin. 

 

KOTABARU- Kompleks Makam Raja-Raja Pulau Laut di Desa Sigam bukan sekadar objek wisata religi bagi peziarah lokal, Rabu (8/4).

Situs yang memakamkan tokoh besar seperti Pangeran Jaya Sumitra (Raja Pulau Laut I) dan Pangeran Abdul Kadir (Raja Pulau Laut II) ini dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi sejarah bertaraf internasional jika dikelola dengan standar yang tepat.

Hal tersebut diungkapkan oleh Muhammad Fahrudin Alwi, atau yang akrab disapa Awing. Sebagai lulusan Pendidikan Sejarah dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Awing melihat ada urgensi besar untuk meningkatkan status dan fasilitas situs ini.

Menurutnya, setiap akhir pekan, terutama hari Minggu, arus pengunjung tidak pernah putus. Namun, ia menekankan bahwa situs ini membutuhkan perhatian lebih dari Pemerintah Daerah (Pemda) agar mampu menarik minat masyarakat luas, termasuk wisatawan asing dan peneliti sejarah yang memiliki ketertarikan tinggi pada narasi kerajaan di Nusantara.

"Ini adalah bagian dari identitas dan sejarah besar Kotabaru. Sebagai lulusan sejarah, saya melihat situs ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Harapannya, pengelolaannya lebih profesional agar nilai sejarahnya tetap terjaga dan bisa dikenal lebih luas," ujar Awing kepada Radar Banjarmasin.

Keberadaan makam Pangeran Jaya Sumitra yang wafat pada 1869 menjadi bukti autentik eksistensi pemerintahan di Bumi Saijaan pada masa lampau. 

Letaknya yang strategis, hanya 10 menit dari pusat kota menuju arah Pantai Gedambaan, sebenarnya menjadi modal kuat bagi pengembangan wisata sejarah terintegrasi.

Awing berharap adanya pengelolaan dan penyediaan informasi sejarah yang lebih komprehensif di lokasi. 

Dengan narasi yang kuat dan pelestarian yang baik, ia optimis situs ini tidak hanya menjadi tempat kirim doa, tetapi juga pusat edukasi sejarah bagi generasi muda dan peneliti dari luar daerah.

"Mudah-mudahan ini menjadi perhatian serius. Kita ingin sejarah kita tidak hanya diingat oleh orang kita sendiri, tapi juga dihargai oleh masyarakat luar yang datang ke Kotabaru karena nilai historisnya," tutupnya mengakhiri.

Editor : Arif Subekti
#Kotabaru #internasional #situs #Sejarah #raja