Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sahang Banjar, Pernah Jadi Barang Sensitif Dalam Sejarah di Banua

Endang Syarifuddin • Kamis, 2 April 2026 | 11:20 WIB
LADANG LADA: Ilustrasi penanaman lada di wilayah Borneo. (koleksi KITLV)
LADANG LADA: Ilustrasi penanaman lada di wilayah Borneo. (koleksi KITLV)

 TAHULAH Pian. Lada atau sahang yang sering masyarakat Banjar tabur dalam masakan, ternyata pernah jadi “barang sensitif” di Banjar? Bukan karena langka, tapi nilainya terlalu tinggi.

Di masa Kerajaan Negara Dipa, sekitar abad ke-15, Maharaja Suryanata malah membatasi penanaman lada. Dalam Hikayat Banjar disebutkan, rakyat hanya boleh menanam empat sampai lima rumpun saja. Cukup untuk dapur, tidak dijadikan komoditas dagang.

Padahal rempah yang satu ini dikenal memiliki nilai jual tinggi. Lalu kenapa sebabnya penanaman lada dibatasi? “Raja khawatir kalau sahang ditanam besar-besaran, orang jadi lebih memilih uang daripada pangan. Akibatnya, harga makanan bisa mahal, konflik sosial muncul, sampai tatanan kerajaan jadi kacau,” ujar sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Mansyur.

Memasuki era Kesultanan Banjar abad ke-16, aturan itu mulai berubah. Lada justru jadi primadona. Permintaan dunia tinggi, terutama dari Eropa dan Tiongkok. Banjar pun masuk dalam jalur perdagangan rempah internasional. Sahang yang dulu dibatasi, kini jadi rebutan. “Bahkan urang Banjar punya lada unggulan. Ada tiga jenis, yakni lada Negara, lada Tanah Laut, dan lada Kayutangi. Semuanya punya ciri khas masing-masing,” terangnya.

Kualitasnya tidak kalah dengan daerah lain di Nusantara. Tak heran, bangsa Eropa sampai berlayar jauh ke Kalimantan Selatan pada masa itu hanya untuk mencari rempah ini.

Cara menanamnya juga unik. Urang Banjar mengenal istilah mamanduk. Lahan dibersihkan, kayu dikeringkan, lalu dibakar sampai jadi abu, baru ditanami lada. Cara ini sudah ada sejak zaman Suku Biaju, yang konon sebagai pelopor kebun lada di Kalimantan.

Meski sempat jadi komoditas global, sahang tetap menjadi bumbu di dapur masyarakat Banjar. Hampir setiap masakan Banjar ada sahang. Di antaranya adalah soto banjar dan ketupat kandangan. Bumbu tersebut dipakai sebagai penguat rasa.

Uniknya lagi, sahang bukan sekadar bumbu. Dalam tradisi Banjar, masakan berbahan lada sering diberikan untuk ibu yang habis melahirkan. Karna khasiatnya bikin badan hangat dan cepat pulih. “Sahang bukan hanya sekadar rempah dapur. Ia pernah jadi sumber kekhawatiran raja, lalu berubah jadi komoditas dunia, dan sampai hari ini tetap jadi identitas rasa masyarakat Banjar,” imbuhnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #kesultanan banjar #Sejarah