Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

KH Hasan Effendi: Dijuluki Singa Podium, Melawan Kupon Porkas di Tanah Bumbu

Zulqarnain RB • Kamis, 26 Maret 2026 | 08:51 WIB

ZIARAH: Seorang peziarah berdoa di makam Kiai Hasan di Desa Al Kautsar, Kecamatan Satui, Tanah Bumbu.
ZIARAH: Seorang peziarah berdoa di makam Kiai Hasan di Desa Al Kautsar, Kecamatan Satui, Tanah Bumbu.

TAHULAH Pian. Pada akhir dekade 1980-an, masyarakat Tanah Bumbu sempat akrab dengan kupon undian Porkas (Pekan Olahraga dan Ketangkasan). Dari warung kecil hingga obrolan sehari-hari, Porkas menjadi fenomena sosial yang menjangkau hingga Sungai Danau, Kecamatan Satui.

Namun di balik popularitasnya, muncul suara lantang penolakan dari seorang ulama muda, Kiai Haji Hasan Effendi. Lahir di Banua Hanyar Sungai Pandan, Alabio, 27 Juli 1954. Sejak 1977 ia mengabdikan diri sebagai guru di Pagatan dan aktif berdakwah di Tanah Bumbu. Dalam setiap ceramah, Kiai Hasan menegaskan bahwa Porkas sejatinya adalah praktik judi yang haram, meski kala itu dilegalkan negara.

Porkas sendiri diluncurkan pemerintah Orde Baru pada 10 Desember 1985 melalui SK Menteri Sosial Nomor BSS-10-12/85. Program ini beroperasi penuh sejak 1986 hingga awal 1990-an sebagai Sumbangan Olahraga Berhadiah (SOB), dengan mekanisme menebak hasil pertandingan sepak bola. Pemerintah menolak menyebutnya judi, tetapi banyak ulama menilai Porkas sebagai bentuk maisir yang dilarang dalam Islam.

Keberanian Kiai Hasan menentang Porkas membuatnya dijuluki “singa podium” oleh Habib Sholeh, pendiri Pondok Pesantren Al-Kautsar di Satui. Putranya, Ahmad Fuady, mengenang bagaimana ayahnya menjadi satu-satunya penceramah yang secara tegas melarang keterlibatan masyarakat dalam kupon undian tersebut. Bahkan, Kiai Hasan pernah diadang saat hendak berdakwah, namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya.

Selain berdakwah, Kiai Hasan juga mendirikan Majelis Taklim Nurul Islam pada 1990 dan menyusun berbagai kitab sebagai bahan ajar. Ia sempat berkarier di birokrasi pendidikan sebelum akhirnya memilih fokus mengabdi di Pondok Pesantren Al-Kautsar.

Gelombang penolakan terhadap Porkas akhirnya meluas. Pada November 1993, pemerintah resmi menghentikan Porkas dan seluruh praktik lotre serupa. Kiai Hasan wafat pada 18 Juli 2018, meninggalkan jejak dakwah, karya keislaman, dan kenangan sebagai ulama yang berani berdiri di garis depan melawan praktik judi berkedok resmi negara.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Judi #Tahulah Pian #Tanah Bumbu #Ulama Kalsel