Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Baandi-Andi: Sastra Lisan Khas Budaya Banjar yang Lembut di Awal, Makin Lama Makin Emosional

Rasidi Fadli • Kamis, 19 Maret 2026 | 10:44 WIB

WARISAN BUDAYA: Ilustrasi Kesenian Baandi-andi yang tengah diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Pemkab Tapin.
WARISAN BUDAYA: Ilustrasi Kesenian Baandi-andi yang tengah diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Pemkab Tapin.

TAHULAH Pian. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, ada satu warisan budaya Banjar yang diam-diam masih bertahan, bahkan menyimpan nilai luhur yang tak lekang oleh waktu. Namanya Andi-andi.

Tahun ini, Baandi-andi diusulkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tapin untuk menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Tapin, Riza Fahlevie, mengungkapkan bahwa Andi-andi merupakan salah satu bentuk sastra lisan khas masyarakat Banjar yang memiliki kemiripan dengan cerita Panji di Jawa.

Namun, Andi-andi punya ciri khas tersendiri, baik dari cara penyampaian maupun latar budaya yang melahirkannya. “Andi-andi ini bukan sekadar cerita. Ini adalah bagian dari identitas urang Banjar, khususnya di Tapin,” ujarnya.

Dalam praktiknya, Andi-andi dituturkan dalam tradisi yang disebut baandi-andi. Sementara orang yang membawakannya dikenal sebagai paandi-andian. Tradisi ini dipercaya bermula dari wilayah Pandahan, Kabupaten Tapin.

Uniknya, baandi-andi tidak dibawakan di panggung megah atau acara resmi. Justru, ia hidup di tengah aktivitas masyarakat, khususnya saat musim panen padi di pahumaan atau sawah. Ketika para petani bekerja secara gotong royong, cerita-cerita Andi-andi dilantunkan bersahut-sahutan, mengisi keheningan ladang.

Cerita yang dibawakan pun bukan cerita pendek. Satu kisah bisa dituturkan berhari-hari hingga selesai. Dengan gaya bertutur lembut di awal, lalu berubah semakin kuat dan penuh emosi saat memasuki inti cerita, paandi-andian mampu menghidupkan suasana. Isi ceritanya pun sarat makna. Dari kisah legenda, petuah hidup, hingga peringatan moral.

Sebagaimana dicatat dalam penelitian Ideham dkk (2005), ada beberapa kisah populer dalam Andi-andi. Salah satunya “Sangiang Gantung”, tentang raja yang tamak hingga akhirnya binasa oleh perbuatannya sendiri.

Ada pula kisah “Intingan dan Dayuhan”, dua bersaudara dengan karakter bertolak belakang. Yang satu bijaksana, yang lain polos namun jujur. Kisah ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan kasih sayang dalam keluarga.

Tak kalah menarik, “Ular Dandang” bercerita tentang makhluk jelmaan yang akhirnya menjadi raja sakti setelah menyelamatkan kerajaan. Sementara “Batu Balah Batu Batangkup” menjadi pengingat keras tentang akibat durhaka kepada orang tua.

Cerita lainnya seperti “Sandah Gelar Puteri Ambang Kapas” dan “Kisah Batu Banawa” juga menyimpan pesan moral mendalam, dari cinta yang tak sampai hingga kutukan akibat tidak mengakui ibu kandung.

Menurut Riza Fahlevie, nilai-nilai dalam Andi-andi sangat relevan hingga kini. “Ada pesan tentang hormat kepada orang tua, kejujuran, hingga konsekuensi dari keserakahan. Ini yang harus kita jaga,” katanya.

Ia pun berharap generasi muda tidak melupakan warisan ini. Upaya pelestarian, lanjutnya, bisa dilakukan dengan mendokumentasikan cerita, menghidupkan kembali tradisi baandi-andi, hingga memasukkannya dalam kegiatan seni dan pendidikan. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #Tahulah Pian #Tapin #Budaya Banjar #kesenian #Sejarah