TAHULAH Pian. Nama sebuah wilayah sering kali menjadi prasasti dari peristiwa besar yang pernah terjadi di sana. Di Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan, terdapat sebuah desa bernama Sungai Pumpung yang memiliki asal-usul nama cukup memilukan.
Nama tersebut bukan sekadar label geografis, melainkan pengingat atas rangkaian tragedi berdarah yang pernah menimpa warga setempat.
Secara administratif, Desa Sungai Pumpung memiliki luas wilayah sekitar 500 hektare. Sebanyak 25 persen dari lahan tersebut merupakan kawasan pemukiman yang dihuni masyarakat dengan mata pencaharian utama sebagai petani dan pekebun. Desa ini berada sekitar enam kilometer dari pusat kecamatan Awayan dan berbatasan langsung dengan Desa Pematang di sebelah utara.
Sejarah mencatat, Desa Sungai Pumpung dulunya merupakan bagian dari Desa Pematang. Momentum perubahan status terjadi pada tahun 1978 melalui kebijakan pemekaran wilayah. Saat itu, Sungai Pumpung resmi memisahkan diri bersama beberapa desa lain untuk menjalankan pemerintahan mandiri dengan Kaspul Anwar sebagai kepala desa pertama.
Namun, jauh sebelum kemandirian desa terbentuk, masyarakat setempat harus melewati fase kehidupan yang penuh teror. Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balangan, Halianur menjelaskan bahwa penamaan Sungai Pumpung berakar dari peristiwa kelam yang terjadi sekitar tahun 1960-an.
Kala itu, sekelompok pengacau keamanan yang menamakan diri sebagai anggota gerombolan mulai mengganggu stabilitas desa. Mereka melakukan aksi pembunuhan sadis dengan cara mengumpulkan penduduk di tepi sungai untuk dieksekusi.
Teror tidak berhenti di situ, karena kemunculan begal di tahun-tahun berikutnya juga kerap memakan korban jiwa di jembatan desa. “Dalam bahasa penduduk setempat, tindakan memenggal kepala itu diistilahkan dengan kata memumpung. Jadi, nama Sungai Pumpung itu diambil dari istilah memumpung atau memenggal kepala korban di tepi sungai,” terang Halianur.
Ia menambahkan, meskipun terdengar sadis, penyematan nama tersebut bertujuan untuk mengenang para korban yang tewas akibat kekejaman gerombolan dan begal di masa lalu. Beruntung, sejak memasuki era 1990-an, kondisi desa sudah dinyatakan aman terkendali setelah para pelaku kriminal ditindak tegas.
“Nama adalah identitas sekaligus pengingat sejarah. Sangat penting bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk memahami asal-usul desanya agar nilai-nilai perjuangan masa lalu tetap terjaga,” tuturnya.
Kini, desa pumpung telah bertransformasi menjadi wilayah yang tenang. Namun, nama yang melekat tetap menjadi warisan nilai bagi warga bahwa kedamaian yang dirasakan saat ini ditebus dengan sejarah yang sangat mahal.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief