Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Moerdjani Plan, Ketika Banjarbaru Direncanakan Sebagai Ibu Kota Kalimantan

Sheilla Farazela • Selasa, 17 Maret 2026 | 09:39 WIB

AKRAB: dr. Moerdjani saat bersama Bung Karno di lapangan Merdeka Banjarmasin.
AKRAB: dr. Moerdjani saat bersama Bung Karno di lapangan Merdeka Banjarmasin.

TAHULAH Pian. Peran Dr. Moerdjani dalam pembangunan di Kalimantan Selatan menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah perencanaan wilayah di Kalimantan. Salah satu gagasan yang paling dikenal adalah rencananya menjadikan Banjarbaru sebagai Ibu Kota Kalimantan melalui program yang dikenal sebagai Moerdjani Plan.

Mengutip buku Profil Gubernur Kalimantan Selatan dari P.M. Noor sampai Sahbirin Noor oleh Tim Penyusun Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45 (DHD 45) Provinsi Kalimantan Selatan, gagasan tersebut muncul pada masa awal pembangunan wilayah Kalimantan, ketika pemerintah berupaya menata pusat pemerintahan dan membuka wilayah baru.

Melalui rencana tersebut, Moerdjani mengusulkan pembangunan kawasan Gunung Apam di Banjarbaru sebagai pusat pemerintahan.

Selain Banjarbaru, rencana pembangunan pusat administrasi juga disiapkan di Puruk Cahu. Moerdjani juga merancang pembangunan sejumlah infrastruktur strategis, termasuk lapangan udara Sungai Durian di Pontianak.

Selama bertugas di Kalimantan, Moerdjani juga dikenal mengembangkan konsep pembangunan pertanian melalui proyek polder bersama ahli pertanian Ir. Schophuijs. Program tersebut dikenal dengan nama Polder Plan Kalimantan, yang bertujuan membuka lahan persawahan di wilayah rawa dengan sistem pengaturan tata air tertutup seperti yang diterapkan di Belanda. “Polder merupakan sistem pengelolaan air dengan cara mengurung suatu kawasan menggunakan tanggul sehingga tinggi muka air dapat diatur untuk kepentingan pertanian,” sebut pengamat sejarah, Mursalin.

Sistem ini dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa yang banyak ditemukan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Dalam pelaksanaannya, proyek percontohan polder sempat dibangun di beberapa daerah. Di Kalimantan Tengah dikembangkan polder Mentaren, sedangkan di Kalimantan Selatan dimulai pembangunan polder Alabio.

Namun pelaksanaan proyek tersebut menghadapi berbagai kendala. Kondisi politik nasional pada masa itu yang ditandai dengan pergantian kabinet yang cukup sering membuat proyek pembangunan berjalan tersendat.

Selain itu, perencanaan yang beberapa kali mengalami perubahan turut memengaruhi keberlanjutan proyek. Hingga kini, kedua proyek percontohan tersebut tidak pernah sepenuhnya selesai sesuai rencana awal.

Khusus untuk proyek polder Alabio, perbedaan pandangan antara pemerintah dan sebagian masyarakat setempat juga menjadi tantangan. Permasalahan lain yang muncul adalah penataan lahan yang cukup kompleks serta adanya sebagian wilayah yang tetap harus dipertahankan sebagai rawa.

Meski menghadapi berbagai hambatan, gagasan Moerdjani mengenai pengembangan wilayah dan pemanfaatan lahan rawa melalui sistem polder tetap menjadi bagian penting dalam sejarah perencanaan pembangunan di Kalimantan.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Sejarah Kalsel #kalimantan selatan #Tahulah Pian #Kota Banjarbaru