TAHULAH Pian. Di balik kemegahan situs bersejarah Candi Agung Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), tersimpan sebuah lokasi yang menyimpan kisah tragis sekaligus legenda yang masih dipercaya masyarakat hingga kini.
Tempat itu dikenal dengan sebutan Telaga Darah, sebuah sumur tua yang berada di bagian belakang museum dalam kompleks Candi Agung. Sumur atau lubang tersebut tidak dalam. Meski dangkal namun berisi air.
Telaga tersebut diyakini masyarakat sebagai lokasi pembunuhan dua bersaudara. Sukmaraga dan Patmaraga, yang menurut cerita rakyat terjadi pada masa Kerajaan Negara Dipa sekitar abad ke-14.
Kisah itu menyebutkan, bahwa keduanya dibunuh oleh paman mereka sendiri, Patih Lambung Mangkurat, karena diliputi rasa cemburu terhadap kedekatan Sukmaraga dan Patmaraga dengan Puteri Junjung Buih, tokoh penting dalam sejarah dan legenda Kerajaan Banjar.
Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Hulu Sungai Utara, Rahmawati, menjelaskan bahwa Telaga Darah menjadi salah satu bagian dari cerita rakyat yang berkembang di tengah masyarakat Banjar dan masih sering dikaitkan dengan sejarah berdirinya kerajaan di kawasan tersebut.
“Telaga Darah ini memang sering disebut dalam cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Lokasinya berada di belakang museum dalam kompleks Candi Agung. Bentuknya seperti sumur tua dan sering dikaitkan dengan kisah tragis Sukmaraga dan Patmaraga,” ujarnya, Minggu (14/3).
Keberadaan Telaga Darah tidak hanya menjadi bagian dari legenda lokal, tetapi juga memperkaya nilai historis dan budaya dari kawasan Candi Agung yang merupakan salah satu situs peninggalan Hindu di Kalimantan Selatan.
Menurutnya, kisah tersebut juga sering dihubungkan dengan cerita Luhuk Badangsanak dalam Hikayat Banjar, meskipun dalam beberapa versi terdapat perbedaan mengenai lokasi pasti peristiwa tersebut.
Sebab lokasi untuk Luhuk Badangsanak berada di luar kompleks Candi berada di Desa Lok Suga Kecamatan Haur Gading. Sekitar 2 kilometer dari lokasi Candi Agung. “Cerita ini termasuk dalam urban legend atau legenda yang berkembang secara turun-temurun di masyarakat Banjar. Walaupun ada beberapa versi cerita, kisah ini tetap menjadi bagian dari warisan budaya lisan yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda,” jelasnya.
Hingga kini, Telaga Darah masih menjadi salah satu titik yang menarik perhatian pengunjung yang datang ke kompleks Candi Agung. Selain karena nilai sejarahnya, tempat tersebut juga kerap dikaitkan dengan nuansa mistis yang menyelimuti legenda lama Kerajaan Negara Dipa.
Sebagai salah satu situs bersejarah di Hulu Sungai Utara, kawasan Candi Agung tidak hanya menyimpan peninggalan arkeologis, tetapi juga cerita-cerita rakyat yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Banjar.
Dalam perjalanannya, Telaga Darah pun menjadi saksi bisu dari kisah kelam yang hingga kini terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat setempat.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief