TAHULAH Pian. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi Kota Banjarmasin, masih tersimpan jejak sejarah yang melekat pada sebuah kawasan bernama Kampung Bugis. Terletak di sepanjang Jalan Sulawesi, Kelurahan Pasar Lama, Banjarmasin Tengah, kawasan ini dahulu dikenal sebagai permukiman warga keturunan Bugis yang datang dan menetap di kota tepian sungai Banjarmasin.
Kampung Bugis membentang dari jembatan dekat BPK Pasar Lama hingga tikungan menuju Jembatan Masjid Jami. Jembatan yang kini lebih dikenal sebagai Jembatan Masjid Jami itu dulunya disebut Jembatan Sulawesi 1 dan 2, menjadi penghubung vital antara Jalan Sulawesi dan Jalan Masjid Jami.
Tak hanya itu, di kawasan ini berdiri sebuah sekolah dasar yang telah lama menjadi bagian dari sejarah pendidikan Banjarmasin. Sebelum berganti nama menjadi SD Negeri Pasar Lama 3, sekolah tersebut dikenal masyarakat sebagai SD Kampung Bugis.
Menurut Rusiansyah (68), warga yang telah lama bermukim di Jalan Sulawesi, penyebutan Kampung Bugis muncul karena banyaknya warga Bugis yang menetap di kawasan tersebut. “Dulu memang banyak warga Bugis di sini. Sampai sekarang kemungkinan masih ada, tapi mungkin sudah keturunan ke berapa,” ujarnya, Rabu (11/3).
Ia menambahkan, hingga kini jejak sejarah itu masih terlihat dari nama-nama gang di kawasan tersebut, seperti Gang Palopo dan Gang Parepare, yang jelas merujuk pada daerah asal di Sulawesi Selatan. “Kalau orang mau ke sana pasti bilangnya Kampung Bugis. Sampai sekarang masih ada bukti dari nama gang asal Sulawesi,” katanya.
Fenomena penamaan kawasan berdasarkan komunitas warga bukan hanya terjadi di Kampung Bugis. Rusiansyah mengingatkan bahwa Banjarmasin dahulu memiliki beberapa kawasan serupa, seperti Kampung Arab, Kampung Kristen di Jalan S Parman (dulu Jalan Kalimantan), serta Kampung Jawa di Jalan DI Panjaitan. Nama-nama ini mencerminkan keberagaman etnis yang membentuk wajah sosial Banjarmasin di masa lalu.
Namun, ia menyayangkan bahwa generasi muda kini semakin jarang mengetahui asal-usul penyebutan tersebut. “Sekarang mungkin anak-anak muda sudah kurang tahu lagi sejarahnya,” tutupnya.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief