Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Badadamaran, Tradisi Khas Banjar Menyambut Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadan

M Idris Jian Sidik • Rabu, 11 Maret 2026 | 10:58 WIB

TRADISI: Pawai tanglong atau lampu hias memenuhi jalanan dengan cahaya warna-warni dalam gelaran tradisi badadamaran menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan.
TRADISI: Pawai tanglong atau lampu hias memenuhi jalanan dengan cahaya warna-warni dalam gelaran tradisi badadamaran menyambut sepuluh malam terakhir Ramadan.

TAHULAH Pian. Memasuki sepertiga akhir bulan Ramadan, masyarakat Banjar memiliki tradisi unik yang telah diwariskan turun-temurun untuk menyambut sepuluh malam terakhir yang diyakini sebagai waktu turunnya lailatul qadar. Tradisi itu bernama badadamaran, sebuah ritual cahaya yang sarat makna spiritual dan kebersamaan.

Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, menjelaskan bahwa badadamaran berakar dari kata damar, yakni getah pohon yang dahulu digunakan sebagai sumber penerangan sebelum listrik masuk ke pelosok kampung. Getah tersebut dibakar di dalam wadah tahan api sehingga memancarkan cahaya yang menerangi kegelapan malam.

“Bagi orang Banjar, sepuluh malam terakhir Ramadan adalah puncak dari seluruh bulan puasa. Badadamaran adalah cara mereka menyambut dan menghidupkan suasana malam-malam istimewa itu,” ujar Ersa.

Dalam praktiknya, tradisi ini biasanya dilakukan oleh anak-anak yang berbaris berjalan mengelilingi kampung sambil membawa nyala damar. Pemandangan barisan cahaya yang memenuhi penjuru kampung itu menciptakan suasana yang semarak dan membangkitkan semangat warga untuk beribadah sepanjang malam.

Setelah prosesi berkeliling selesai, damar kemudian diletakkan di depan masing-masing rumah dan dibiarkan menyala hingga pagi. Ia menjelaskan, bahwa menyalakan damar di depan rumah bukan sekadar hiasan, melainkan juga mengandung keyakinan bahwa cahayanya dapat memberikan penerangan di alam kubur bagi kerabat yang telah tiada.

Seiring perkembangan zaman, bahan damar berangsur digantikan oleh lilin dan obor bersumbu minyak tanah, lalu berkembang lagi menjadi rangkaian lampu listrik berwarna-warni. Meski bahannya sudah jauh berbeda, istilah badadamaran tetap dipertahankan sebagai identitas tradisi. “Namanya tetap badadamaran, karena itulah akarnya. Perubahan bahan adalah bentuk adaptasi zaman, tetapi rohnya tetap sama,” katanya.

Tradisi ini kemudian berkembang menjadi pawai tanglong atau pawai lampu hias yang kini digelar meriah di berbagai daerah. Setiap kelompok atau kampung berlomba menciptakan tanglong paling unik dan menarik, diarak di atas kendaraan dan diiringi tabuhan gendang serta nyanyian yang menambah semarak suasana.

Ersa berharap tradisi badadamaran dapat terus dilestarikan dan diarahkan secara positif sebagai sarana mempererat kebersamaan, gotong royong, dan persahabatan antarwarga, tanpa mengurangi kekhusyukan ibadah di bulan suci Ramadan. “Tradisi ini bukan hanya soal cahaya, tetapi tentang bagaimana orang Banjar menjaga kebersamaan dan menghidupkan nilai-nilai luhur yang sudah ada sejak lama,” pungkasnya.

Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini

Editor: OScar Fraby

Editor : Arief
#kalimantan selatan #Budaya Banjar #Ramadan di Kalsel