TAHULAH Pian. Bagi banyak warga Banjarmasin, menu yang satu ini paling favorit dijadikan saat sahur. Rasa asamnya yang nendang, pedas rawitnya yang menggigit, membuat rasa kantuk bakal hilang. Apalagi kalau bukan cacapan asam.
Cacapan asam merupakan kuliner khas Banjar yang diracik dari buah-buahan berasa asam. Mangga muda masih menjadi primadona. Tapi ada juga pilihan lain yang tak kalah menggoda, yakin belimbing wuluh, jeruk nipis, binjai, hingga gandaria alias ramania. Khusus gandaria, buah musiman ini hanya hadir setahun sekali. Saat musimnya tiba, cacapan asam terasa makin istimewa.
Cacapan asam biasanya hadir sebagai pendamping. Pasangan favoritnya tak jauh-jauh dari ikan bakar atau goreng. Ikan betok (Papuyu) dan gabus (Haruan) kerap jadi andalan. Ada pula yang setia dengan ikan asin sepat.
Ada yang suka direndam langsung dalam cacapannya, ada pula yang doyan air cacapan dijadikan kuah dalam nasi. Rasanya bikin sahur tambah semangat. “Kalau saur enggak pakai cacapan asam, rasanya seperti ada yang kurang,” ujar Siti Aisyah (52), warga Sungai Lulut, Banjarmasin Timur.
Menurutnya, sejak dulu cacapan asam selalu hadir di rumahnya setiap Ramadan. Sebab menu yang satu ini dapat menggugah selera. Apalagi saat sahur. “Asamnya itu yang membangunkan rasa. Walaupun lauknya cuma ikan asin, telur dadar atau telur asin pun jadi lahap makannya,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Rahman (60), warga Pengambangan. Ia menyebut cacapan asam bukan sekadar pelengkap, tapi sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. “Dari zaman orang tua dulu, sahur selalu ada cacapan. Apalagi disajikan dengan ikan gabus. Itu sudah khas Banjar,” ucapnya.
Proses pembuatannya pun cukup sederhana. Bawang merah diiris tipis, cabai rawit bisa dibiarkan utuh atau dipotong kasar. Keduanya kemudian diberi air hangat. Asam Jawa dicampurkan untuk memberi rasa kecut alami. Tak jarang ditambahkan terasi sangrai atau acan agar aroma makin menggoda. Garam dan sedikit penyedap melengkapi racikan.
Untuk cacapan asam mangga, mangga muda dikupas lalu dipotong memanjang. Cabai rawit dan bawang merah ditumbuk pelan bersama terasi dan kaldu bubuk. Air asam Jawa dituang secukupnya, lalu semua bahan diaduk rata. Hasilnya, kuah asam pedas yang segar, siap jadi penyelamat santap sahur.
Di bulan puasa, ketika perut harus diisi secukupnya namun tetap bertenaga seharian, cacapan asam seakan menjawab kebutuhan itu. Bukan sekadar sambal atau pelengkap, tapi warisan rasa turun temurun yang setia menemani sahur urang Banua, sederhana, khas, dan selalu dirindukan.
Baca kumpulan berita terpopuler RADAR BANJARMASIN di Google News. Klik di sini
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief