Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ornamen Buah Nanas Dalam Tradisi dan Budaya Banjar, Begini Filosofinya

Zulvan Rahmatan • Senin, 2 Maret 2026 | 10:59 WIB

PENUH FILOSOFI: Ornamen nanas, salah satu yang dapat ditemui di pagar Kompleks Makam Sultan Suriansyah, di Kuin Utara, Banjarmasin Utara.
PENUH FILOSOFI: Ornamen nanas, salah satu yang dapat ditemui di pagar Kompleks Makam Sultan Suriansyah, di Kuin Utara, Banjarmasin Utara.

TAHULAH Pian. Di sejumlah kawasan tua di Banjarmasin, terutama wilayah Kuin, ornamen berbentuk buah nanas atau dalam bahasa Banjar disebut kanas, sering ditemukan menghiasi ujung tiang tangga, pagar rumah atau eks bangunan bercorak adat Banjar.

Ornamen nanas itu berdiri mencolok di bagian terdepan bangunan, pagar jembatan dan sejumlah tempat, seolah menjadi penanda awal sebelum seseorang memasuki rumah. Dalam arsitektur Banjar, tangga bukan sekadar akses naik-turun. Ia menjadi elemen pertama yang dilihat tamu. Karena itu, bagian ini diberi ragam hias yang menarik.

Pada puncak pagar atau tangga, biasanya disebut sungkul, tak heran dijumpai motif buah kanas, selain kembang melati belum mekar, tongkol pakis, belimbing, hingga bulan sabit.

Ini semua tercatat dalam buku Arsitektur Tradisional Daerah Kalsel, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Ke budayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1981/1982.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mansyur, menjelaskan bahwa motif nanas termasuk dalam seni tatah atau seni ukir yang berkembang relatif muda, sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Artinya, kecil kemungkinan ornamen nanas tersebut merupakan pengaruh langsung dari Kesultanan Banjar. Meski begitu, terdapat pendapat lain bahwa filosofi nanas memang sudah ada sejak era pra Kesultanan Banjar dibubarkan atau dihapuskan pemerintah kolonial Belanda pada 1861.

Namun, menurutnya, perkembangan seni ukir Banjar lebih banyak dipengaruhi lingkungan alam dan nilai keislaman yang kental dalam arsitektur lokal. “Ada asumsi bahwa nanas merupakan simbol kerajaan dan kesejahteraan. Namun itu masih sebatas pendapat, belum menjadi fakta sejarah yang kuat,” ujarnya.

Pada rumah tradisional seperti Rumah Bubungan Tinggi, dikenal teknik tatah surut atau relief dangkal dan tatah babuku atau ukiran berbentuk. Melalui teknik tatah babuku inilah motif nanas kerap diwujudkan pada kepala tiang tangga dan pagar.

Motif yang digunakan pun beragam, banyak mengambil bentuk buah-buahan seperti manggis, belimbing, bingkudu, hingga talipuk dan cengkih. Selain itu, pengaruh arsitektur masjid juga tampak pada bentuk kubah atau bulan sabit yang menghiasi ujung ukiran.

Mansyur berpendapat, secara filosofis, ornamen kanas memiliki makna simbolik yang dalam. Pada rumah Banjar, nanas dimaknai sebagai simbol niat baik dan keterbukaan tuan rumah terhadap tamu yang datang. Rasanya yang manis dan segar diartikan sebagai lambang kebahagiaan serta suasana sukacita.

Tak hanya pada rumah, simbol ini juga ditemukan pada masjid dan bahkan jembatan. Filosofinya diibaratkan seperti logam berkarat yang perlu dibersihkan. Nanas, yang dalam tradisi dipercaya dapat membersihkan karat, menjadi perlambang pembersihan hati manusia dari sifat-sifat buruk seperti sombong, dengki, dan prasangka.

Ornamen kanas bukan sekadar hiasan estetis. Ia menjadi penanda identitas budaya, perpaduan antara alam, sejarah dan nilai religius yang membentuk karakter arsitektur Banjar hingga kini. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#ornamen #kalimantan selatan #banjarmasin #Tahulah Pian #Budaya Banjar