Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Wali Pisang, Sosok yang Masih Hidup dalam Ingatan Masyarakat HST

Jamaludin • Selasa, 24 Februari 2026 | 08:54 WIB

KERAMAT: Makam Gusti Hasan Basri (Wali Pisang) di Kelurahan Pantai Hambawang Barat, Kecamatan Labuan Amas Selatan.
KERAMAT: Makam Gusti Hasan Basri (Wali Pisang) di Kelurahan Pantai Hambawang Barat, Kecamatan Labuan Amas Selatan.

TAHULAH Pian. Nama Haji Gusti Hasan Basri bin Arisin, yang lebih dikenal sebagai Wali Pisang, masih hidup dalam ingatan masyarakat Hulu Sungai Tengah. Sosoknya yang unik, penuh kisah karomah, dan berakar dari silsilah bangsawan Banjar, menjadi bagian dari sejarah lokal yang diwariskan turun-temurun.

Gusti Hasan Basri lahir sebagai anak ketiga dari enam bersaudara, putra Gusti Arisin. Kakak tertuanya, Hj Antung Galuh, turut membantu membiayai perjalanan Basri muda ke Mekah dengan menjual hewan peliharaan keluarga sejenis keledai atau kuda. Selama tujuh tahun ia menimba ilmu agama di tanah suci, sebelum kembali ke kampung halaman di Telaga Jingah.

Sepulangnya dari Mekah, ia mengajar ilmu agama di lingkungan sekitar. Ia juga dikenal sebagai guru sekaligus sahabat Gusti Muhammad Ramli atau Wali Katum dari Desa Tabudarat Hilir. Keduanya masih memiliki ikatan darah dengan kerajaan Banjar, terlihat dari gelar “gusti” yang melekat.

Berbeda dari kebanyakan ulama, Gusti Hasan Basri dikenal sebagai seorang majdzub, atau menutupi kealimannya dengan perilaku yang dianggap aneh oleh masyarakat. Salah satu cerita dari mulul ke mulut yang masyur, konon suatu Waktu Gusti Hasan Basri hilang kemudian ditemukan warga di dalam hutan, namun ketika diminta untuk pulang, ia menolak.

Warga pun pulang terlebih dulu. Setelah itu ternyata Gusti Hasan Basri didapati sudah berada di rumahnya sendiri. Keistimewaan ini disebut warga pada zaman dulu sebagai "ilmu melipat bumi".

Karena kelakuannya yang dianggap aneh. Gusti Hasan Basri pun ditinggalkan oleh sang istri. Sebab itu ia tidak memiliki keturunan. Semasa hidupnya ia tinggal bersama ibundanya.

Kisah lain yang diceritakan yaitu ketika ada seseorang yang bertamu ke rumahnya namun tidak izin, maka ia akan terperosok akibat lantai rumah papan yang lapuk. Namun jika tamu itu minta izin dan diterima maka tidak terjadi apa-apa. Papan lantainya seolah menjadi kokoh.

Cerita lainnya, konon ada seseorang warga yang dikejar tentara Belanda lalu meminta tolong kepada Gusti Hasan Basri. Warga tersebut kemudian diminta bersembunyi di belakangnya. Al hasil tentara Belanda itu tidak melihat sosok warga yang sedang dicarinya.

Kisah yang paling terkenal adalah Gusti Hasan Basri sembahyang di atas pohon pisang dengan daunnya sebagai alas atau sajadah. Cerita inilah asal usul gelar Wali Pisang disematkan kepada dirinya. Hingga dikenal sebagai karomah.

Tahun 1940 ia wafat atau pada tanggal 13 Rajab. Sudah 86 tahun yang lalu ia meninggal duina. Makamnya berada di Telaga Jingah Hilir, Kelurahan Pantai Hambawang Barat, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Melihat dari silsilahnya Gusti Hasan Basri ini merupakan keturuanan bangsawan Banjar atau sultan-sultan Banjar. Silsilahnya dimulia dari: Gusti Hasan Basri bin Gusti Arisi bin Pangeran Muhammad Jahidin bin Pangeran Arya Adipati bin Sultan Abdurahman bin Sultan Adam Al Wastiq Billah bin Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidillah bin Sultan Tamjidullah bin Sultan Tahmdidullah bin Sultan Tahlillullah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah.

Seperti kisa para wali majdzub umumnya. Mereka selalu memiliki keistimewaan yang selalu dikaitkan dengan karomah. Hal ini sudah terkenal di kalangan masyarakat Indonesia khususnya di masyarakat Banjar.

Namun, sampai saat ini tidak ada tulisan atau catatan sejarah yang terkonfirmasi mengenani sosok Gusti Hasan Basri. Cerita-cerita yang beredar di masyarakat merupakan hasil dari kisah tutur dari mulut ke mulut.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#hulu sungai tengah #wali #Ulama #makam