Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kopi Liberika Hatungun, Warisan Sejarah Transmigrasi Awal 1970-an di Tapin

Rasidi Fadli • Senin, 23 Februari 2026 | 10:44 WIB

KOMODITAS PERTANIAN: Kopi Liberika Hatungun, hasil dari program transmigrasi awal 1970-an dari Pulau Jawa.
KOMODITAS PERTANIAN: Kopi Liberika Hatungun, hasil dari program transmigrasi awal 1970-an dari Pulau Jawa.

TAHULAH Pian. Sejarah tidak selalu tertulis di lembaran dokumen resmi. Kadang ia tumbuh diam-diam di kebun rakyat, lalu berbuah menjadi identitas sebuah daerah. Di Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, sejarah itu bernama Kopi Liberika.

Kepala Bappelitbang Tapin, Meidy Harris Prayoga, menuturkan bahwa Liberika Hatungun tak bisa dilepaskan dari program transmigrasi awal 1970-an. Sekitar tahun 1973, keluarga-keluarga dari Jawa Timur menetap di Desa Batu Hapu, Asam Randah, Matang Batas, hingga Burakai.

Mereka membawa semangat hidup baru, bibit tanaman, serta pengetahuan bercocok tanam dari tanah asal. Salah satunya adalah kopi. Pada masa itu, kopi hanya ditanam sebagai pelengkap, sekadar konsumsi keluarga dan sedikit penopang ekonomi.

Komoditas utama tetap karet. Namun, pohon kopi yang tumbuh di pekarangan menjadi penanda sosial, membedakan transmigran dari warga lokal yang lebih mengandalkan karet dan tanaman pangan.

Waktu berjalan, hingga tren kopi spesialti menggeliat secara nasional pada 2015. Momentum ini membangunkan kembali potensi Liberika Hatungun. Tanaman yang semula dianggap sekunder mulai ditata ulang. Kelompok tani terbentuk, dukungan kelembagaan daerah menguat, dan kopi perlahan menjelma menjadi identitas baru Hatungun.

Kini, kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah warisan sejarah transmigrasi yang menyatu dengan tanah Kalimantan Selatan. Di Hatungun, kopi memiliki ruang istimewa dalam kehidupan sosial. Tradisi ngopi bareng menjadi denyut keseharian. Warung kopi bukan hanya tempat jual beli, melainkan ruang musyawarah khas Banjar yang diperkaya oleh masyarakat trans Jawa.

Di sana, petani berbagi cerita tentang pemangkasan, pemupukan, hingga teknik pascapanen. Pengetahuan diwariskan secara lisan, dari generasi ke generasi, ditemani uap kopi panas. Kopi juga hadir dalam hajatan dan ritual. Pernikahan, selamatan, hingga syukuran panen terasa kurang lengkap tanpa sajian kopi. Bahkan, sebagian keluarga Jawa masih menjaga kebiasaan menyeruput kopi sebelum ke ladang sebagai doa agar pekerjaan lancar.

Generasi kedua dan ketiga transmigran kini melihat kopi sebagai lebih dari sekadar warisan. Mereka mengemasnya dalam bentuk bubuk modern, kopi botol, hingga racikan kafe.

Menariknya, meski telah puluhan tahun menetap di Kalimantan Selatan, nilai budaya Jawa tetap kental. Penentuan waktu tanam dan panen, misalnya, masih mempertimbangkan “hari baik” dalam kalender Jawa. Asimilasi Jawa dan Banjar melahirkan warna tersendiri pada Liberika Hatungun, produk alam sekaligus produk sejarah dan kebudayaan. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Kopi #Tapin #transmigrasi #Sejarah