TAHULAH Pian. Di Desa Pandulangan Kecamatan Sungai Pandan (Alabio), Kabupaten Hulu Sungai Utara, berdiri panti asuhan pertama di Kalimantan bahkan di Kalsel.
Usianya 88 tahun. Sejarah berdirinya Panti Asuhan tertua ini, dimulai meningkatnya jumlah anak yatim piatu dan terlantar di wilayah Alabio pada dekade 1930-an.
Dari catatan sejarah Muhammadiyah Alabio, tokoh masyarakat dan warga Muhammadiyah setempat, kala itu berinisiatif mendirikan lembaga pengasuhan anak.
Inisiatif itu kemudian melahirkan Panti Asuhan Muhammadiyah Alabio, yang hingga kini dikenal sebagai panti asuhan tertua di Pulau Kalimantan.
Gagasan pendirian panti asuhan, muncul dari keprihatinan sosial masyarakat terhadap anak-anak yang kehilangan orang tua yang membutuhkan perlindungan serta pendidikan.
Landasan moralnya merujuk pada ajaran Islam tentang kepedulian terhadap anak yatim, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–2 dan hadis Nabi Muhammad tentang keutamaan memelihara anak yatim.
Melalui Konferensi Muhammadiyah Wilayah Alabio, dibentuk badan pengurus yang dipimpin H. Usman Amin sebagai ketua, didampingi H. Tholib (wakil ketua), H. Anang Busera (sekretaris), dan H. Dahlan (bendahara), serta sejumlah seksi bidang. Para pengurus kemudian menyiapkan tempat penampungan sementara dengan meminjam rumah warga di Desa Pandulangan.
Tonggak sejarah berdirinya panti terjadi pada 1 Mei 1938, ketika tokoh Muhammadiyah Alabio H. Jaferi meresmikan dimulainya pemeliharaan anak yatim dengan nama Pemeliharaan Anak Yatim Muhammadiyah Wilayah Alabio (PAYMA).
Pada tahun pertama, lembaga ini mengasuh tujuh anak laki-laki dengan pengasuh Abdul Hamid Diris. Sejak awal berdiri hingga Oktober 1950, seluruh kebutuhan anak asuh, mulai dari makan, kesehatan, hingga pendidikan ditanggung masyarakat dan warga Muhammadiyah.
Dukungan pemerintah daerah mulai mengalir secara rutin sejak November 1950, terutama untuk biaya konsumsi, perawatan kesehatan, dan sandang. Bantuan tersebut terus berlanjut hingga kini.
Seiring kebijakan Departemen Sosial mengenai penyeragaman nomenklatur lembaga kesejahteraan sosial anak, nama PAYMA kemudian diubah menjadi Panti Asuhan Muhammadiyah Alabio (PAMA). Pergantian nama itu tidak mengubah misi awal lembaga sebagai pusat pengasuhan dan pendidikan anak yatim di wilayah Hulu Sungai Utara dan Kalimantan Selatan.
Pengasuh PAMA Alabio, Akhmad Sholihin, mengatakan keberadaan panti yang berdiri sejak 1938 menunjukkan peran panjang masyarakat dalam pelayanan sosial berbasis keagamaan di Kalimantan.
“Panti ini lahir dari kepedulian masyarakat dan Muhammadiyah terhadap anak yatim. Sejak awal hingga sekarang, semangat gotong royong dan pengabdian tetap menjadi kekuatan utama,” ujarnya.
Saat ini panti asuhan ini telah memasuki usia 88 tahun dan terus berkembang sebagai lembaga kesejahteraan sosial anak di daerah Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Hingga saat ini, Panti Asuhan Muhammadiyah Alabio tetap menjalankan fungsi pengasuhan, pendidikan, dan pembinaan karakter bagi anak yatim dan terlantar, melanjutkan warisan sosial yang dirintis para pendirinya hampir sembilan dekade lalu.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief