TAHULAH Pian. Di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Hamalau, Kecamatan Sungai Raya, berdiri sebuah bangunan yang sarat makna sejarah. Gedung yang kini dikenal sebagai Museum Rakyat Hulu Sungai Selatan pada mulanya adalah Gedung Juang ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.
Monumen ini didirikan untuk mengenang kegigihan para pejuang di bawah komando Pahlawan Nasional Brigjend H. Hassan Basry, sosok yang dijuluki Bapak Gerilya Kalimantan.
Wilayah Hulu Sungai Selatan dipilih sebagai lokasi pembangunan karena perannya sebagai pusat perlawanan selama revolusi fisik 1945–1949. Daerah ini juga menjadi saksi sejarah diproklamirkannya pemerintahan Gubernur Tentara ALRI Divisi IV pada 17 Mei 1949.
Gedung Juang ini resmi dibuka pada 15 Agustus 1996 oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana Madya TNI Arief Kushariadi. Sebagai wadah penyimpanan memoar perjuangan angkatan laut. Sebagian koleksinya kemudian dipindahkan ke museum provinsi.
Bangunan sempat beralih fungsi menjadi kantor pemerintahan, sebelum akhirnya dikembalikan ke ruh sejarahnya. Pada 31 Desember 2015, Bupati Hulu Sungai Selatan Achmad Fikry meresmikan kembali gedung ini sebagai pusat sejarah dan budaya. Statusnya diperkuat melalui izin pendirian museum yang ditandatangani Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor pada 28 November 2017.
Kini, memasuki tahun 2026, museum tersebut telah bertransformasi menjadi penjaga memori Bumi Antaludin. Di dalamnya tersimpan ribuan fragmen cerita perjuangan dan kehidupan rakyat. Koleksi historika berupa senjata gerilya dan perlengkapan perang milik pejuang ALRI Divisi IV menjadi saksi bisu semangat patriotisme.
Tak hanya itu, pengunjung juga diajak menyelami akar budaya Banjar melalui koleksi arkeologika, etnografika, hingga keramologika. Benda pecah belah era kolonial dan peninggalan rakyat jelata menegaskan bahwa museum ini bukan sekadar ruang pamer, melainkan jembatan antara sejarah perjuangan dan identitas lokal.
Museum Rakyat Hulu Sungai Selatan memastikan bahwa api semangat perjuangan 17 Mei tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini. Ia berdiri bukan hanya sebagai bangunan bersejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa perjuangan dan budaya adalah fondasi yang menjaga jati diri masyarakat Hulu Sungai Selatan.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief