Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Latung Ratu Zalecha, Ditancapkan Saat Salat, Jadi Ikhtiar Spiritual Saat Kondisi Bahaya

Endang Syarifuddin • Kamis, 5 Februari 2026 | 10:06 WIB

PAHLAWAN: Ratu Zaleha, pahlawan perempuan Banjar, cucu Pangeran Antasari.
PAHLAWAN: Ratu Zaleha, pahlawan perempuan Banjar, cucu Pangeran Antasari.

TAHULAH Pian. Di tanah Banjar, perang tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan salat. Bahkan ketika maut mengintai dari balik rimbun hutan, kewajiban itu tetap ditegakkan. Praktik salat khauf, salat dalam keadaan genting, saat takut atau menghadapi musuh, menjadi bagian dari laku hidup para pejuang Banjar di abad ke-19.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mansyur, menegaskan bahwa salat bagi pejuang Banjar bukan sekadar ritual, melainkan prinsip hidup. “Bagi pejuang Banjar, salat itu tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi apa pun. Bahkan di medan perang. Cara pelaksanaannya yang disesuaikan dengan situasi,” ujarnya.

Catatan sejarah itu melekat pada sosok Ratu Zaleha, pahlawan perempuan Banjar sekaligus cucu Pangeran Antasari. Ia memimpin perlawanan di pedalaman Borneo melawan pasukan kolonial Belanda. Sekitar tahun 1906, pasukan marsose Belanda di bawah Letnan Christoffel berhasil membaca arah pelarian Ratu Zaleha, berkat adanya pengkhianat yang memberi informasi.

Pengejaran berujung di Muara Teweh, hutan lebat yang kini masuk wilayah Kalimantan Tengah. Di tempat itulah terjadi peristiwa yang jarang diungkap dalam buku sejarah.

Saat waktu Dzuhur tiba, Ratu Zaleha menghentikan perjalanan. Bersama pasukannya dan dua tokoh perang Banjar lainnya (Pangeran Muhammad Roem dan Muhammad Thalib), mereka mendirikan salat. Formasi dibuat segitiga, dengan Pangeran Muhammad Roem memberi perlindungan batin.

Ratu Zaleha menancapkan latung, sejenis rotan yang diyakini sebagai senjata magis, di tiga penjuru. Latung bukan sekadar senjata fisik, melainkan simbol ikhtiar spiritual orang Banjar ketika menghadapi bahaya. “Latung itu bukan untuk menyerang. Ia bagian dari perlindungan batin,” jelas Mansyur.

Salat Dzuhur pun dilaksanakan dengan khusyuk. Namun begitu salam terakhir diucapkan, pasukan Belanda mendadak mengepung. Latung masih tertancap di tanah, belum sempat diambil. Dalam kondisi itu, Ratu Zaleha akhirnya ditangkap. Diasingkan ke Kampung Empang, Bogor (Buitenzorg) oleh Pemerintah Hindia Belanda, sementara dua pemimpin lainnya berhasil lolos.

“Ratu Zaleha tertangkap bukan karena kalah berperang, tapi karena sedang menjalankan ibadah. Ini yang sering luput dicatat,” ungkapnya. (gmp/mof)

Editor : Arief
#banjarmasin #Sejarah #perang banjar