TAHULAH Pian. Keberadaan kerbau rawa tak hanya ada di Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Namun, terdapat pula di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Tepatnya di Dusun Awang Landas, Desa Sungai Buluh.
Di sini, kerbau rawa menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Selain sebagai ternak tradisional, kerbau rawa juga menjadi penopang ekonomi warga yang tinggal di kawasan lahan basah.
Hamdi, salah seorang warga Dusun Awang Landas, mengatakan kerbau rawa memiliki karakteristik berbeda dibanding sapi atau kerbau darat pada umumnya. Hewan ini mampu beradaptasi dengan lingkungan rawa dan berlumpur. “Kerbau ini memang cocoknya di rawa. Mereka suka berkubang, berenang, dan mencari pakan di area berair,” ujarnya Rabu (28/1).
Secara fisik, kerbau rawa dikenal bertubuh besar dengan kulit tebal dan warna dominan gelap. Tanduknya melengkung ke belakang dan hewan ini memiliki kebiasaan berendam untuk menjaga suhu tubuh, terutama saat cuaca panas.
Banyak sumber mencatat, kerbau rawa sebagai ternak khas lahan basah yang memiliki kemampuan bertahan di kawasan gambut dan rawa. Kerbau jenis ini banyak ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia seperti Kalimantan dan Sumatera Selatan, termasuk kerbau rawa Pampangan yang sempat diangkat karena populasinya menurun akibat perubahan lingkungan.
Hamdi menambahkan, bagi warga Awang Landas, kerbau rawa bukan hanya ternak, tetapi juga aset keluarga yang dapat dijual sewaktu-waktu untuk kebutuhan mendesak. “Kalau ada keperluan besar seperti biaya sekolah atau kebutuhan mendadak, kerbau ini bisa jadi andalan,” katanya.
Namun, ia mengakui tantangan saat ini adalah berkurangnya lahan pakan alami akibat perubahan fungsi lahan rawa. Warga berharap ada perhatian lebih untuk menjaga kelestarian kerbau rawa sebagai bagian dari warisan peternakan tradisional di HST.
Editor : Arief