Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bukan di Teluk Dalam, Ternyata Bangunan ini Lapas Tertua di Banjarmasin

Maulana Radar Banjarmasin • Selasa, 20 Januari 2026 | 11:09 WIB
LAPAS: Gedung inilah dijadikan tempat akhir setelah proses persidangan selesai untuk menjalani pidana kurungan
LAPAS: Gedung inilah dijadikan tempat akhir setelah proses persidangan selesai untuk menjalani pidana kurungan

Tahulah Pian. Tidak banyak yang tahu, gedung pertama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Banjarmasin ternyata bukan berada di Jalan Sutoyo S, Teluk Dalam, Banjarmasin Barat seperti saat ini. Lapas tertua di kota ini justru berdiri di jantung kota, tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Banjarmasin Tengah, di kawasan belakang Kantor Pos Besar.

Kasubag Tata Usaha Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Hutan Triwibowo, mengungkapkan informasi tersebut berdasarkan cerita pegawai lama yang telah pensiun. “Katanya lokasinya di belakang Kantor Pos,” ujarnya.

Lapas Kelas IIA Banjarmasin berdiri sejak 1947. Bangunan sempat direnovasi sekitar 1985, namun belum pernah dilakukan perbaikan menyeluruh hingga kini. Saat ini, luas lahan lapas mencapai 4,2 hektare.

Pada masa kolonial Belanda, fasilitas ini dikenal dengan nama Bina Tuna Warga, yang difungsikan untuk menampung pelaku tindak pidana umum seperti pencurian dan perampokan. Triwibowo sendiri mulai bertugas sebagai pegawai pemasyarakatan sejak 1994 di Rutan Pelaihari, sebelum akhirnya ditempatkan di Lapas Banjarmasin pada 2020.

Dikatakannya, perubahan besar dalam sistem pemidanaan di Indonesia sejak 27 April 1964, ketika istilah “penjara” resmi diganti menjadi “lembaga pemasyarakatan”. Sejak itu, narapidana disebut warga binaan pemasyarakatan, dengan fokus pada pembinaan dan reintegrasi sosial. “Kalau dulu sistemnya lebih ke kepenjaraan, sekarang menekankan pada pembinaan dan pengembalian mereka ke masyarakat,” jelas Triwibowo.

Kalapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menambahkan bahwa saat ini berbagai program pembinaan terus dijalankan. Salah satu yang menjadi unggulan adalah program ketahanan pangan, sesuai instruksi Presiden.

Hasil tambak bahkan sudah beberapa kali dipanen, termasuk penebaran 1.500 ekor ikan papuyu dan gabus. “Warga binaan menanam terong, seledri, selada, dan juga mengelola tambak ikan,” ujarnya.

Menariknya, sebagian hasil produksi dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur lapas. “Ikan yang dihasilkan dikonsumsi warga binaan, sehingga meningkatkan asupan protein mereka,” jelas Herriansyah.

Selain itu, warga binaan juga dilatih keterampilan seperti pembuatan kain sasirangan, produksi keripik tempe, hingga olahan akar pinang. Seluruh produk telah bersertifikat halal dan diharapkan menjadi bekal ekonomi setelah mereka kembali ke masyarakat.

“Insyaallah, pada 2026 ini akan terus kami kembangkan, termasuk strategi pemasarannya,” pungkasnya. 

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#banjarmasin #Lapas #Sejarah