Tahulah Pian. Sejarah panjang Masjid Pusaka Banua Lawas tak berhenti pada proses pembangunannya. Dalam rentang ratusan tahun, masjid peninggalan Khatib Dayan itu telah beberapa kali mengalami rehabilitasi. Namun, tetap mempertahankan nilai keaslian dan simbol sejarahnya.
Pemerhati Sejarah Banjar, Dharma Setyawan, menjelaskan bahwa rehabilitasi pertama dilakukan pada tahun 1669 M. Saat itu, masjid diperlebar dari ukuran awal menjadi 16 x 17 meter. “Empat tiang guru yang awalnya terbuat dari betung diganti dengan kayu ulin. Begitu juga tiang penunjang lainnya, semuanya menggunakan ulin,” terangnya.
Meski banyak tiang yang diganti, bentuk bangunan dan pataka buatan Khatib Dayan tetap dipertahankan Rehabilitasi pertama ini dipelopori oleh Daurbung, salah satu tokoh masyarakat setelah wafatnya Khatib Dayan.
Pada masa itu, bedug di masjid masih menggunakan bedug buatan Khatib Dayan yang konon dibuat dari satu pohon yang sama dengan bedug di Masjid Puain dan Masjid Paran. “Nama pohonnya banglai,” ungkap Dharma.
Sekitar tahun 1769 M, rehabilitasi kedua dilakukan atas prakarsa Haji Abu Bakar dibantu Mahmud. Perbaikan difokuskan pada penyambungan tiang utama karena dinilai kurang tinggi serta penggantian beberapa tiang penunjang yang mulai lapuk dimakan usia. “Meski ada perbaikan struktur, bagian atap, dinding, dan pataka tetap dipertahankan seperti sebelumnya,” ujarnya.
Tak berselang lama, sekitar tahun 1791 M, rehabilitasi ketiga dipimpin oleh Khatib Tasan, putra dari Haji Abu Bakar. “Proses ini lebih bersifat perawatan lanjutan agar masjid tetap kokoh digunakan jamaah,” imbuhnya.
Proses rehabilitasi penting kembali dilakukan pada tahun 1848, di bawah kepemimpinan Penghulu Rasyid. Dia dikenal sebagai salah satu ulama yang turut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dalam Perang Banjar bersama Sultan Hidayatullah Al-Watsiqubillah.
“Penghulu Rasyid mengganti dinding pelupuh dengan papan kayu, serta perabot bambu diganti kayu. Selain itu, dilakukan pelebaran pada bagian bangunan induk masjid,” papar Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya di Kesultanan Banjar itu.
Perbaikan terus berlanjut. Tahun 1925 dilakukan penimbunan dasar masjid menggunakan tanah yang dibawa secara gotong royong oleh masyarakat dari rumah masing-masing. Kemudian pada tahun 1932, di bawah kepemimpinan Haji Dukahar, dinding kayu biasa diganti dengan kayu ulin.
Pada masa ini pula lantai tehel atau keramik mulai dipasang, serta pataka baru (hiasan puncak) dibuat oleh pengrajin dari wilayah Paniuran, Hulu Sungai Utara. “Pataka lama buatan Khatib Dayan tidak dibuang, tapi disimpan di samping mihrab sebagai bukti sejarah,” terang Dharma.
Menariknya, saat penurunan pataka lama dengan diganti yang baru dilakukan upacara penurunan yang disaksikan oleh Tuan Conttoleur berkebangsaan Belanda dari Tanjung. “Kehadirannya ini menandakan pentingnya peristiwa tersebut,” katanya.
Adanya simbolisasi budaya pra-Islam dalam arsitektur Masjid Pusaka Banua Lawas, sepeti atap tumpang tiga berpuncak, melambangkan gunung yang pada masa lalu disakralkan sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur.
Sementara pataka berbentuk kuncup bunga teratai merupakan simbol pohon hayat atau batang haring dalam kepercayaan Kaharingan. “Dalam mitologi Dayak, pohon hayat melambangkan kesatuan serba dua, seperti terang-gelap, jantan-betina. Ketika Islam berkembang, simbol ini tidak dihapus, tapi dimaknai ulang sebagai lambang tujuan akhir manusia menuju surga,” jelasnya.
Kepercayaan inilah yang membuat bekas pataka kayu ulin Masjid Pusaka Banua Lawas hingga kini masih dianggap keramat. Bahkan, masyarakat Maanyan dari pedalaman masih kerap datang berziarah. “Ini bukti kuat bahwa Islam di Banua Lawas tumbuh tanpa memutus akar budaya lokal,” pungkas Dharma.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief