Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Masjid Pusaka Banua Lawas Tabalong, Para Tokoh Dayak pun Turut Membangun

M Fadlan Zakiri • Rabu, 14 Januari 2026 | 08:31 WIB
WARISAN: Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, menjadi saksi sejarah tokoh Dayak berperan dalam pembangunannya.
WARISAN: Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, menjadi saksi sejarah tokoh Dayak berperan dalam pembangunannya.

Tahulah Pian. Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, Kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong, menjadi saksi sejarah bagaimana para tokoh Dayak turut berperan dalam pembangunan rumah ibadah Islam pada abad ke-17.

Masjid ini merupakan peninggalan ulama besar Khatib Dayan, keturunan Sunan Gunung Jati. Pemerhati Sejarah Banjar yang juga Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya Kesultanan Banjar, Dharma Setyawan, menjelaskan bahwa Masjid Pusaka bukan sekadar bangunan ibadah, tetapi simbol penerimaan Islam secara damai oleh masyarakat Dayak Banua Usang.

“Masjid ini dibangun sekitar tahun 1625 M atas prakarsa Khatib Dayan dan dibantu para tokoh Dayak yang telah memeluk Islam. Ini menunjukkan dakwah dilakukan dengan pendekatan budaya dan persaudaraan,” ujar Dharma, Selasa (13/1)

Sebelum masjid berdiri, di lokasi tersebut terdapat sebuah pesanggarahan yang berfungsi sebagai tempat tinggal kepala suku Dayak sekaligus lokasi musyawarah adat. Bangunan berukuran 15 x 15 meter itu terbuat dari bambu, palupuh, dan atap daun rumbia.

Di halaman pesanggarahan juga terdapat dua tajau besar dari porselin yang digunakan sebagai tempat penampungan air untuk memandikan bayi yang baru lahir. Hingga kini, kedua tajau tersebut masih utuh dan kerap diziarahi oleh masyarakat Dayak dari pedalaman Habau dan Barito Timur.

Menurut Dharma, masuknya Islam ke Banua Lawas terjadi setelah berdirinya Kerajaan Banjar pada masa Sultan Suriansyah. Dakwah Khatib Dayan dari Demak diterima sebagian besar masyarakat Dayak Banua Usang. “Bagi yang tidak menerima Islam, mereka memilih hijrah ke pedalaman. Tapi hubungan kekeluargaan tetap terjaga hingga sekarang, tanpa konflik,” jelasnya.

Dalam pembangunannya, Masjid Pusaka melibatkan banyak tokoh Dayak muslim. Mulai Datu Ranggana dari Puain, Datu Kartamina dari Kelua, Datu Sari Panji dari Banua Usang, Lang-lang Buana, Taruntun Manau, Timba Sagara, hingga Pambalah Batung dari Barito.

Empat tiang utama (tihang guru) dibuat dari kayu batung berukuran besar, sementara tiang penunjang lainnya juga dari batung berdiameter lebih kecil. Dinding masjid terbuat dari pelupuh, atap dari daun rumbia, dan seluruh pengikat bangunan menggunakan haduk (ijuk) yang dipintal.

Arsitekturnya dibuat tinggi dan lancip dengan tiga tingkat atap. Di puncaknya dipasang pataka dari kayu bunglai buatan Khatib Dayan yang masih utuh hingga kini. “Keunikan masjid ini adalah konstruksinya yang masih asli. Bahkan tangga melingkar menuju kubah setinggi sekitar enam hingga tujuh meter masih dipertahankan,” tutur Dharma.

Berdasarkan tutur para tetua, pembangunan masjid dimulai pada Kamis pagi setelah salat Subuh. Khatib Dayan sendiri yang pertama kali mendirikan empat tihang guru. “Yang luar biasa, dalam satu hari yang sama, Khatib Dayan dan para tokoh juga membangun Masjid Puain dan Masjid Paran di Balangan. Ketiganya selesai dalam satu hari,” ungkap Dharma.

Sekarang kurang lebih 44 tahun, Masjid Pusaka Banua Lawas tersebut tidak ada diadakan rehabilitasi, kecuali hanya yang bersifat rutin atau perbaikan pada bagian bagian yang mengalami kerusakan kecil. “Ini warisan luar biasa. Masjid ini bukti bahwa Islam berkembang di Kalimantan melalui dialog budaya, bukan paksaan,” pungkas Dharma.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Tabalong #Tahulah Pian #Masjid #Dayak