Tahulah Pian. Nama gang di wilayah permukiman sering kali menyimpan kisah sejarah yang lekat dengan kehidupan warganya. Demikian halnya dengan Gang Roti di Jalan Kelayan A, Kelurahan Kelayan Dalam, Kecamatan Banjarmasin Selatan.
Nama gang ini bukan sekadar sebutan, melainkan jejak dari sebuah pabrik roti rumahan yang pernah berdiri sejak era 1960-an.
Nur Alamsiah (66), warga Antasan Kecil Timur, Banjarmasin Utara, masih mengingat masa kecilnya ketika gang tersebut menjadi pusat produksi roti tawar. Usaha itu dikelola oleh keluarga besar pamannya, Asy’ari. “Dulu rotinya tak sebanyak sekarang, tapi identik dengan makanan orang Barat saat masih dikelola Paman Asy’ari,” kenangnya, Selasa (6/1).
Pabrik roti rumahan itu memproduksi dengan cara sederhana. Roti dibakar menggunakan tungku tradisional dari batu semen, menghasilkan bentuk lonjong dan memanjang. Rasanya diklaim mirip roti Minseng dari China yang dikenal hambar.
Produk tersebut kemudian dijual di Pasar Cempaka, tepat di seberang Masjid Noor, Jalan Pangeran Samudera, Banjarmasin Tengah.
Alamsiah kecil tak begitu mengetahui alasan keluarganya memilih berdagang roti. Namun ia ingat, keluarganya memang terbiasa berdagang hingga ke luar daerah.
Seiring waktu, Asy’ari menyerahkan usaha roti itu kepada saudarinya, Nuriyah, dan suaminya Burhan. Hal ini dilakukan karena peluang usaha menjual sirap (genteng dari kayu ulin) di Jakarta saat itu dianggap lebih menjanjikan.
Siti Aminah (69), anak Nuriyah, membenarkan kisah tersebut. Menurutnya, usaha roti rumahan di Gang Roti bertahan puluhan tahun, namun perlahan meredup. “Ayah sempat melanjutkan usaha itu, tapi akhirnya tutup total pada 1990-an karena pajak produksi yang tinggi,” ujarnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief