Tahulah Pian. Desa Danda Jaya, yang kini dikenal sebagai salah satu sentra pertanian di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, menyimpan sejarah panjang sebagai kawasan transmigrasi. Desa ini dihuni mayoritas warga pendatang dari Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB), yang sejak awal 1980-an datang dengan harapan membangun kehidupan baru di tanah Banua.
Selain menjadi tempat bermukim para transmigran, Danda Jaya berkembang sebagai penyuplai sayur-mayur, cabai, padi, hingga buah-buahan ke Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Peran desa ini dalam mendukung kebutuhan pangan daerah menjadikannya salah satu kawasan penting di Barito Kuala.
Sesepuh desa, Wignyo Sutarno (76), mengenang masa awal berdirinya Danda Jaya. Sebelum menjadi desa definitif, wilayah tersebut dikenal dengan nama Sei Puntik I dan Sei Puntik II, bagian dari kawasan transmigrasi D2.
Baca Juga: Jadi Tersangka Video Gay, Fazar Bungas dan Lawan Mainnya Disel Terpisah dari Tahanan Lain
“Awalnya ada dua desa persiapan, yakni Sumber Makmur dan Sumber Jaya. Jumlah transmigran yang datang saat itu sekitar 650 kepala keluarga,” tutur Wignyo.
Melihat perkembangan wilayah, Camat Barito Kuala kala itu, Bihman Muliansyah, kemudian menggabungkan kedua desa persiapan menjadi satu desa definitif dengan nama Danda Jaya. Nama tersebut diberikan langsung oleh sang camat, meski makna pastinya tidak banyak diketahui warga.
Gelombang transmigrasi mulai masuk ke kawasan ini pada akhir tahun 1982. Para pendatang datang dengan semangat besar untuk menanam berbagai komoditas pangan dan membangun kehidupan baru.
Baca Juga: Dari Hutan Angker jadi Desa Transmigrasi Paling Dinamis di Banjar
“Harapannya waktu itu ya jaya, bagus. Menanam apa saja yang bisa dikonsumsi. Kalau di Jawa, halaman rumah biasanya dimanfaatkan betul oleh masyarakat,” kenang Wignyo.
Namun perjalanan awal tidak selalu mudah. Warga sempat menghadapi masa sulit berupa paceklik selama hampir dua tahun, 1983 hingga 1984. Meski demikian, perlahan mereka mampu bertahan dan mengembangkan desa hingga dikenal luas.
Seiring waktu, Danda Jaya berkembang menjadi desa produktif. Bahkan, kawasan ini pernah menjadi lokasi penelitian oleh pihak luar, termasuk dari negara-negara ASEAN, yang tertarik melihat pola transmigrasi dan pengelolaan pertanian masyarakat.
Kini, meski sebagian besar transmigran telah berbaur dengan masyarakat lokal, masih ada sekitar 12 kepala keluarga asal NTB yang bertahan di Danda Jaya, menjaga jejak sejarah transmigrasi.
Baca Juga: Desa Alur, Desa Dengan Penduduk yang Beragam di Tanah Laut, Begini Sejarahnya
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief