Tahulan Pian. Jika Anda berkunjung ke Desa Sarang Tiung di Kecamatan Pulau Laut Sigam, ada satu pemandangan yang tak biasa setiap tahunnya. Laut yang biasanya menjadi ladang nafkah, berubah menjadi panggung akbar bagi sebuah tradisi sakral masyarakat Bugis pesisir bernama Massalama Ritasi’e.
Secara harfiah, Massalama Ritasi’e bermakna selamatan di atas laut atau syukuran laut. Bagi masyarakat nelayan Sarang Tiung, laut bukan sekadar bentangan air asin, melainkan anugerah Tuhan yang menghidupi keluarga mereka selama turun-temurun.
Persiapannya sangat mendetail. Warga menyajikan aneka sesajen simbolis seperti ketan warna-warni, ayam panggang, hingga kepala sapi sebagai representasi hasil bumi yang kembali dipersembahkan dalam doa. Sebelum dilarung, doa bersama dipanjatkan dipimpin oleh ustadz dan tokoh agama setempat.
Momen paling ikonik adalah saat rakit apung besar mulai bergerak ke tengah laut. Di atas rakit tersebut, lebih dari 30 orang berdiri mengawal sesajen. Di belakangnya, puluhan kapal nelayan yang biasanya dipakai berburu ikan ikut mengiringi dengan hiasan warna-warni.
Namun, ada aturan adat yang harus dipatuhi, kapal-kapal pendamping dilarang keras mendahului rakit utama. Mitosnya, jika dilanggar, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kepercayaan ini menjadi cara masyarakat menjaga ketertiban dan rasa hormat terhadap prosesi sakral tersebut.
Setelah menempuh jarak sekitar 2 kilometer dari bibir pantai, rakit berhenti untuk ritual puncak dan makan bersama di atas laut. Inilah indahnya kebersamaan nelayan, makan dari piring yang sama di atas air yang memberi mereka kehidupan.
Baca Juga: Didominasi Pelaut Tangguh, Kotabaru Layak Disebut Ibukota Nelayan Kalsel
“Ini bentuk syukur masyarakat yang dikolaborasikan dengan kegiatan Kampung Nelayan. Kita ingin warisan budaya para leluhur ini tetap lestari dan terus dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan di Kabupaten Kotabaru,” kata Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis.
Massalama Ritasi’e bukan sekadar pesta pantai. Ia adalah pengingat bagi kita semua bahwa di balik modernitas, ada akar budaya dan rasa syukur yang harus tetap dijaga agar laut tetap memberikan keberkahan bagi anak cucu nanti.
Baca Juga: Tahulah Pian: Nelayan di Kotabaru Ternyata Nelayan Perantauan, Didominasi dari Sulawesi
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief