Tahulah Pian. Dalam kehidupan masyarakat Banjar tempo dulu, peran bidan kampung menempati posisi yang sangat penting. Bukan sekadar tenaga yang membantu proses persalinan, tetapi juga sosok yang memahami adat istiadat, doa-doa, serta berbagai pantangan terkait kelahiran. Kehadirannya memberikan rasa aman dan ketenangan bagi perempuan sejak masa kehamilan hingga melahirkan.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, menjelaskan bahwa bidan kampung pada masa lalu termasuk figur yang dituakan dalam struktur sosial masyarakat Banjar. “Bidan kampung tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan adat. Ia menjadi penghubung antara tradisi, doa, dan keselamatan ibu serta bayi,” ujarnya.
Setelah seorang bayi lahir dengan bantuan bidan, masyarakat Banjar mengenal sejumlah upacara daur hidup yang mengiringi kehadiran bayi tersebut. Salah satu tradisi penting yang masih dikenal hingga kini adalah bapalas bidan.
Secara istilah, kata palas berarti tebus. Dalam tradisi lama masyarakat Banjar, palas berkaitan dengan upacara selamatan yang melibatkan aliran darah binatang sebagai simbol penebusan. Namun seiring masuk dan berkembangnya ajaran Islam, praktik tersebut mengalami penyesuaian. Unsur darah tidak lagi digunakan dan digantikan dengan berbagai benda simbolik.
“Bapalas bidan kemudian dimaknai sebagai ungkapan terima kasih dan penghormatan kepada bidan yang telah membantu persalinan,” kata Ersa.
Selain itu, bagi bayi, upacara ini dipercaya sebagai bentuk penebusan jasa bidan sekaligus doa agar sang anak terhindar dari berbagai marabahaya dalam kehidupannya.
Tradisi bapalas bidan umumnya dilaksanakan setelah bayi berusia 40 hari. Pada prosesi ini, keluarga bayi menyerahkan sejumlah benda sebagai syarat adat kepada bidan. Benda-benda tersebut antara lain beras, jarum dan benang, seekor ayam—ayam jantan untuk bayi laki-laki dan ayam betina untuk bayi perempuan—sebiji kelapa utuh, rempah-rempah, serta perlengkapan menginang seperti kapur, sirih, pinang, gambir, dan tembakau. Biasanya juga disertakan sejumlah uang sebagai pelengkap.
Bagi masyarakat Banjar yang masih memegang tradisi ini, bapalas bidan tidak sekadar bersifat seremonial. Di dalamnya terkandung rasa syukur atas kelahiran bayi, penguatan ikatan batin dan sosial antara bidan dengan keluarga, serta keyakinan spiritual bahwa setiap kelahiran yang telah “dipalas” akan dijauhkan dari bala atau gangguan.
Menurutnya Ersa, tradisi bapalas bidan merupakan cerminan kearifan lokal masyarakat Banjar yang menjunjung tinggi nilai syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap jasa sesama. “Tradisi ini menjadi ingatan kolektif tentang bagaimana orang Banjar memaknai kehidupan sejak awal kelahiran, bukan hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan spiritual,” pungkasnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief