Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sultan Mustain Billah: Raja Banjar Berdarah Dayak, Berkonflik Dengan Belanda Sejak Awal Pertemuan

M Fadlan Zakiri • Kamis, 18 Desember 2025 | 08:22 WIB
Makam  Sultan Mustain Billah, Sultan Banjar IV, penguasa berdarah Biaju
Makam Sultan Mustain Billah, Sultan Banjar IV, penguasa berdarah Biaju

Tahulah Pian. Nama Sultan Mustain Billah menempati posisi penting dalam sejarah Kesultanan Banjar. Dia adalah figur kunci yang membawa Kesultanan Banjar memasuki fase baru, baik dari sisi pemerintahan, politik luar negeri, maupun struktur kota.

“Beliau adalah Sultan Banjar IV yang memerintah cukup lama, dari 1595 sampai 1642. Masa pemerintahannya penuh tantangan, karena Banjar harus menghadapi dinamika internal istana sekaligus tekanan dari kekuatan asing dan kerajaan besar di Nusantara,” ujar Pemerhati Sejarah Banjar, Dharma Setyawan, yang juga Staf Khusus Bidang Diplomasi Budaya Kesultanan Banjar.

Sultan Mustain Billah merupakan putra Sultan Hidayatullah (Sultan Banjar III). Dari garis ibunya, ia memiliki darah Biaju atau Dayak Ngaju. Ibunya adalah puteri Tuan Khatib Banun, seorang menteri asal Biaju yang telah memeluk Islam.

“Dari sini kita bisa melihat bahwa Sultan Mustain Billah adalah raja Banjar yang berdarah Biaju. Ini penting, karena menunjukkan bahwa Kesultanan Banjar sejak awal adalah ruang pertemuan berbagai etnis dan budaya,” jelas Dharma.

Lebih dari sekadar raja, Sultan Mustain Billah dikenang sebagai pendiri Kota Martapura. Pemindahan ibu kota dari Kuin ke Kayu Tangi (Martapura) menjadi keputusan monumental setelah serangan VOC pada 1612 menghancurkan istana Banjar Lama.

Pada masa pemerintahannya, sistem politik Banjar berkembang semakin kompleks. Ia membangun struktur pemerintahan terorganisasi melalui peran Mangkubumi sebagai wakil raja, dibantu empat deputi dan empat hakim. Dari sistem ini lahir lembaga tertinggi negara, Dewan Mahkota (The Royal Council), forum utama penyelesaian persoalan hukum, hubungan luar negeri, hingga kontrak dagang internasional.

Masa Sultan Mustain Billah juga menandai pertemuan pertama orang Banjar dengan Belanda. Tahun 1596, pedagang Banjar bertemu pedagang Belanda di Banten. Namun, hubungan awal berakhir buruk setelah Belanda merampok jung Banjar bermuatan lada.

Ketegangan berlanjut. Ekspedisi Belanda ke Banjarmasin pada 1607 dibalas dengan pembunuhan rombongan Gillis Michielzoon. VOC kemudian menyerang Banjar pada 1612, menghancurkan Kuin. Peristiwa ini mendorong pemindahan ibu kota ke Martapura.

Meski VOC berulang kali berusaha menguasai monopoli lada, Sultan Mustain Billah tetap menolak. Politik dagang Banjar dialihkan ke Makassar, Cochin Cina, dan Pattani.

Selain tekanan Eropa, Banjar juga menghadapi ekspansi Kerajaan Mataram di Jawa. Penaklukan Surabaya dan Sukadana membuat Banjar berada dalam ancaman. Menguasai Banjar berarti menguasai perdagangan lada.

Kesultanan Banjar pun menjelma sebagai negara maritim penting. “Banjarmasin perlahan menjelma menjadi salah satu kekuatan perdagangan penting di Nusantara, dengan kehadiran armada jung perdagangan dari berbagai negara,” jelas Dharma.

Dalam hikayat Banjar, Sultan Mustain Billah dikenang sebagai penjaga marwah kerajaan. Ia memindahkan ibu kota, membangun Dewan Mahkota, menjaga kedaulatan perdagangan, dan menempatkan Banjar sebagai kekuatan maritim abad ke-17.

“Jejaknya masih terasa hingga kini, terutama di Martapura dan dalam ingatan kolektif orang Banjar,” pungkasnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#belanda #Banjar #kesultanan #Sejarah #Dayak