Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Amuk Hantarukung Kandangan, Ketika Para Pejuang Rakyat Gugur Tertembus Peluru

M Padil Ihsan • Rabu, 17 Desember 2025 | 06:53 WIB

BUKTI SEJARAH: Cagar Budaya Situs Amuk Hantarukung, di Hulu Sungai Selatan.
BUKTI SEJARAH: Cagar Budaya Situs Amuk Hantarukung, di Hulu Sungai Selatan.

Tahulah Pian. Sejarah Hulu Sungai Selatan mencatat sebuah peristiwa berdarah sekaligus heroik. Dikenal sebagai Amuk Hantarukung. Tragedi ini meletus pada pertengahan September 1899 di Distrik Amandit (kini Kecamatan Simpur, Hulu Sungai Selatan), menjadi simbol perlawanan rakyat Banjar terhadap penindasan kolonial Hindia Belanda.

Pemicu utama insiden ini adalah penolakan keras masyarakat terhadap kerja rodi yang dipaksakan pemerintah kolonial, khususnya untuk proyek penggalian kanal yang disebut sungai garis. Penindasan tersebut memantik perlawanan rakyat yang dipimpin oleh tiga tokoh sentral.

Mereka adalah Bukhari, dikenal sebagai Pemayung Sultan bagi Pangeran Muhammad Seman. Santar, adik kandung Bukhari dan Pengerak Yuya, tokoh lokal yang berpengaruh di Hantarukung.

Baca Juga: Sejarah Meletusnya Perang Banjar, Ternyata Dipicu Batubara

Bukhari sendiri memiliki latar belakang perjuangan yang kuat. Putra pasangan Manggir dan Bariah ini pernah mengembara hingga Puruk Cahu, Kalteng, di mana ia menjadi panakawan sekaligus pelindung pribadi Pangeran Muhammad Seman. Dengan mandat langsung dari sang Pangeran, Bukhari dan Santar kembali ke kampung halaman untuk menyusun kekuatan rakyat.

Sejarawan Hulu Sungai Selatan, Hardiansyah Asmail, menegaskan bahwa ada peran sentral Bukhari dalam peristiwa tersebut. "Bukhari ini orang Kandangan juga, tepatnya di Amparaya Ulin sekitar Hantarukung. Ia dikenal memiliki ilmu sakti dan kebal. Gusti Muhammad Seman mengutusnya untuk melawan Belanda di Kandangan, lengkap dengan surat mandat," jelas Hardiansyah.

Ketegangan mencapai puncaknya pada 18 September 1899. Pengerak Yuya menolak menyerahkan tenaga kerja untuk proyek kanal. Sebagai respons, pejabat kolonial Controleur Adsenarpont Domes dan Adspirant K. Wehonleschen datang dari Kandangan.

Baca Juga: Sejarah Paramasan kab Banjar, Tempat Bermukim Pangeran Hidayatullah

Pertemuan yang penuh ketegangan berakhir dengan ledakan amarah. Ratusan penduduk di bawah komando Bukhari dan Santar menyerbu sambil mengumandangkan shalawat nabi. Kedua pejabat Belanda tewas dalam serangan tersebut.

Keesokan harinya, 19 September 1899, pemerintah kolonial melancarkan serangan balasan dengan mengerahkan dua kompi serdadu bersenjata lengkap. Pertempuran sengit terjadi di ladang sawah. Rakyat Hantarukung bertahan dengan senjata tradisional, namun akhirnya para pemimpin perlawanan, Bukhari, Haji Matamin, Landuk, dan Pengerak Yuya gugur tertembus peluru.

Pasca pertempuran, Belanda melancarkan operasi pembersihan brutal. Sebanyak 23 orang ditangkap, sembilan di antaranya dihukum gantung. Sepuluh orang lainnya, termasuk Santar, dijatuhi hukuman buang. Jenazah Bukhari, Landuk, dan Haji Matamin kemudian dimakamkan di lokasi yang kini dikenal sebagai Makam Tumpang Talu.

Baca Juga: Sejarah Datu Qabul Margasari, Begini Menurut Cerita Guru Kulur Tapin

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#belanda #hulu sungai selatan #perang #Sejarah