Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kisah Gunung Pamaton, Tempat Bertakhta Pangeran Suryanata

M Fadlan Zakiri • Selasa, 16 Desember 2025 | 09:46 WIB
SITUS SEJARAH: Prasasti Gunung Pamaton di Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.
SITUS SEJARAH: Prasasti Gunung Pamaton di Desa Kiram, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar.

Tahulah Pian. Tak hanya menyimpan kekuatan spiritual dan sejarah yang mendalam. Gunung Pamaton juga diyakini sebagai tempat bertakhta nya Pangeran Suryanata ruang simbolik yang menjadi jembatan antara dunia nyata dan dunia nilai.

Bukan hanya tempat yang disakralkan, Gunung Pamaton juga memiliki catatan penting dalam perjuangan fisik rakyat Banjar.

Pada masa Perang Banjar (1859–1906), kawasan ini menjadi salah satu titik pertahanan Sultan Hidayatullah II. Serangan Belanda pada 19 Juni 1861 menegaskan peran strategis Pamaton sebagai simbol keteguhan dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Berdasarkan kontrak perjanjian Kesultanan Banjar dengan Belanda tertanggal 4 Mei 1826, Gunung Pamaton disebut sebagai batas wilayah antara kekuasaan Kesultanan Banjar dan pemerintah kolonial.

Perannya kian menonjol ketika perang meletus. Pada 18 April 1859, serangan terhadap tambang batu bara Oranje Nassau di Pengaron menandai awal Perang Banjar. Sejumlah pejuang yang dipimpin Pangeran Antasari bergerak dari kawasan Riam Kiwa dan Gunung Pamaton.

Puncak peran strategis Gunung Pamaton terjadi pada Juni 1861. Saat itu, Pangeran Hidayatullah menjadikan kawasan ini sebagai basis pertahanan dan benteng perlawanan. Rencana serangan umum ke Martapura yang disusun bersama para ulama bocor ke tangan Belanda.

Pasukan kolonial di bawah pimpinan Mayor Koch kemudian mendahului dengan menyerang benteng Gunung Pamaton. Serangan tersebut berhasil digagalkan. Catatan sejarah menyebutkan jatuhnya korban di pihak Belanda, termasuk Letnan Ter Dwerde dan Kopral Grimm.

Beberapa bulan kemudian, pada Agustus 1861, Belanda kembali melancarkan serangan besar-besaran. Namun, upaya menangkap Pangeran Hidayatullah kembali gagal karena benteng telah dikosongkan sebagai bagian dari strategi perang gerilya.

Benteng Gunung Pamaton kala itu dipertahankan oleh tokoh-tokoh pejuang Banjar, seperti Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, Tumenggung Gamar Raksapati, Kiai Puspa Yuda Negara, hingga pahlawan perempuan Kiai Cakrawati.

Kini, Gunung Pamaton tak hanya dikenang sebagai lokasi mistis atau medan pertempuran masa lalu. Situs ini telah masuk dalam rute selatan Geopark Meratus Kalimantan Selatan, dengan tema perjalanan dari hutan hujan tropis menuju kawasan intan.

Monumen Legenda Pangeran Suryanata dan pesanggrahan di kaki gunung menjadi penanda sejarah yang dapat disaksikan publik. Dengan ketinggian sekitar 450 meter dan dikelilingi lanskap hijau Pegunungan Meratus, Gunung Pamaton juga mudah diakses karena berada di jalur wisata.

Di sebelah utara terdapat Air Terjun Janda Beranak Tiga, sementara di selatan mengalir Sungai Kiram yang menjadi akses menuju sejumlah destinasi wisata lain.

Gunung Pamaton adalah ‘pintu gerbang’ bukan hanya bagi alam gaib, tapi bagi kesadaran kita akan leluhur dan nilai-nilai perjuangan. Di situlah spiritualitas, sejarah, dan identitas bertemu,” terang pemerhati budaya lokal, M. Ali Syahbana.

Dia menegaskan pentingnya menghidupkan kembali narasi sejarah dan tokoh budaya seperti Suryanata dan Pamaton, khususnya di kalangan generasi muda. Ia juga mendorong agar warisan budaya ini diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan, media massa, hingga ruang publik.

“Jika kita kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai luhur itu, maka yang kita hadapi bukan hanya kekosongan masa lalu, tapi juga kehilangan arah dalam membentuk masa depan,” ujarnya.

Menurutnya, masa depan Banua tak bisa dibangun hanya dengan infrastruktur, tetapi juga dengan kesadaran sejarah dan budaya. Suryanata dan Pamaton adalah dua cahaya penunjuk jalan yang harus terus dijaga agar Banua tetap teguh berdiri dalam arus zaman.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Budaya #Meratus #gunung #Sejarah