Warga menyebutnya Abumbun, yang dalam penuturan lama bermakna "hutan". Konon, kawasan tersebut kerap menyesatkan orang dan tak jarang memunculkan cerita warga yang hilang di dalam belantara.
Perubahan besar dimulai pada 1992 ketika kawasan Abumbun dibuka pemerintah melalui program Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Riam Kanan Irigasi I.
Baca Juga: Rehabilitasi Narkoba HSU Naik 15 Kali Lipat dalam Dua Tahun
Setahun kemudian, gelombang transmigran dari berbagai daerah mulai berdatangan.
Komposisinya beragam. Data menunjukkan jumlah transmigran mencapai 380 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 50 KK asal Kalimantan Selatan, 50 KK dari Jawa Barat, 50 KK dari Jawa Timur.
150 KK transmigrasi lokal dari lima desa sekitar (Pematang Panjang, Sungai Tabuk Kota, Sungai Tabuk Kramat, Gudang Tengah, dan Peabumbun Jayaan), hingga 80 KK dari program transmigrasi TNI Angkatan Laut.
Baca Juga: Gadis HSS Sabet Gelar Wakil V Galuh Kebudayaan Kalsel 2025
Keragaman tersebut menjadikan Abumbun sebagai titik temu budaya Banjar dan Jawa. Meski demikian, perjalanan menuju pengakuan administratif tidak berjalan singkat.
Setelah melalui pembinaan Departemen Transmigrasi dan PPH, kawasan ini berstatus desa sementara pada 1997 dengan nama Desa Abumbun Jaya.
Tonggak penting hadir pada 10 Oktober 1998 saat Pemerintah Kabupaten Banjar menetapkan Abumbun Jaya sebagai desa definitif.
Baca Juga: Nama Lambung Mangkurat Dihidupkan, Kodam Kalsel Dibangun 2026
Sejak saat itu, desa yang dulunya hutan sunyi berangsur membentuk wajah permukiman yang lebih tertata.
Sebagai desa yang baru tumbuh, Abumbun Jaya masih memerlukan berbagai dukungan pembangunan.
Pemerintah desa terus mendorong pemberdayaan masyarakat, terutama rumah tangga miskin (RTM) dan petani, baik dari jalur pengembangan usaha, peningkatan kapasitas, maupun pembangunan partisipatif.
Dari hutan yang dipercaya angker hingga menjadi desa yang hidup dengan ragam budaya, Abumbun Jaya menyimpan jejak panjang tentang bagaimana sebuah wilayah berubah melalui tangan masyarakat dan program transmigrasi.
Kini desa ini menjadi bukti bahwa lahan sunyi pun bisa tumbuh menjadi ruang hidup yang berdaya. (*)
Editor : M. Ramli Arisno