Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tadisi Unik Warga Paramasan Memperlakukan Jenazah: Disimpan di Rumah Kematian

Endang Syarifuddin • Rabu, 10 Desember 2025 | 09:39 WIB
GUNUNG: Kondisi geografis Paramasan era awal 1900-an, wilayah berbukit tanpa dataran, dikelilingi pegunungan dan hutan lebat.
GUNUNG: Kondisi geografis Paramasan era awal 1900-an, wilayah berbukit tanpa dataran, dikelilingi pegunungan dan hutan lebat.

 

Tahulah Pian. Tradisi masyarakat Paramasan, Kabupaten Banjar pada masa silam dalam memperlakukan jenazah menyimpan gambaran unik terhadap kematian. Bukan sekadar ritual, melainkan cerminan hubungan manusia dengan alam dan keyakinan.

Sejarawan Universitas Lambung Mangkurat (ULM, Mansyur, yang meneliti kembali catatan-catatan lama mengenai kehidupan masyarakat di wilayah pegunungan tersebut mengatakan, cara masyarakat Paramasan memperlakukan jenazah tersebut adalah cermin keyakinan dan relasi manusia dengan alam pada masa itu.

Mengutip catatan W.C. Lemei pada 1909, menyebutkan tiga metode tradisional yang digunakan masyarakat Paramasan yakni, menguburkan, membakar, dan meletakkan jenazah di dodenhuisje atau rumah kematian. “Penempatan jenazah di rumah kematian bukan sekadar meletakkan tubuh. Itu bagian dari konsepsi mereka tentang perjalanan roh dan keterhubungan dengan leluhur,” jelas Mansyur.

Rumah kematian biasanya berupa bangunan kecil dan terbuka. Jenazah diletakkan di sana bukan karena kelalaian, melainkan keyakinan bahwa unsur alam, angin, tanah, pepohonan memiliki peran dalam mengembalikan tubuh manusia ke siklusnya.

Sementara itu, praktik pembakaran jenazah diketahui telah dihentikan sejak era Kerajaan Banjar. Namun, penguburan dan penempatan jenazah di rumah kematian masih bertahan cukup lama, bergantung pada adat keluarga masing-masing. “Tradisi tidak berubah serempak. Ada keluarga yang berpegang kuat pada leluhur, ada pula yang mengikuti aturan kerajaan dan pengaruh agama,” paparnya.

Dalam catat Lemei itu juga menggambarkan kondisi Paramasan pada awal 1900-an sebagai wilayah berbukit tanpa dataran. Dikelilingi pegunungan dan hutan lebat. Sungai Riam Kiwa yang mengalir di tengah kawasan dipenuhi jeram sehingga tidak banyak membantu mobilitas masyarakat. “Geografis berpengaruh kuat pada tradisi mereka, termasuk soal pemakaman. Tanah berbatu tidak selalu mudah digali, sehingga pilihan lain seperti rumah kematian muncul sebagai adaptasi,” kata Mansyur.

Permukiman masyarakat kala itu tersebar dan didominasi hunian kecil suku Dayak yang hidup berpencar. Hanya Mandin yang dicatat sebagai kampung kecil yang lebih terpusat. Pada masa tersebut, hampir tidak ditemukan industri. Pertanian dilakukan dengan sistem ladang berpindah tanpa kebun permanen. Peternakan nyaris tidak berkembang. Aktivitas berburu dan menangkap ikan dilakukan sebatas memenuhi kebutuhan harian.

Satu-satunya kegiatan ekonomi bernilai adalah penambangan emas tradisional yang diwariskan turun-temurun. Emas yang dihasilkan umumnya berupa serbuk halus, jarang ditemukan dalam bentuk butiran besar. Perdagangan pun terbatas, bergantung pada pedagang Melayu yang datang membeli emas dan hasil hutan.

“Masyarakat Paramasan di masa itu adalah contoh bagaimana manusia bertahan dalam ruang geografis ekstrem, namun tetap menjaga kosmologi dan adat mereka,” ujarnya.

Bagi Mansyur, tiga cara memperlakukan jenazah tersebut menunjukkan bahwa kematian bagi masyarakat Paramasan bukan sekadar akhir kehidupan, melainkan bagian dari hubungan manusia dengan tanah kelahiran, alam sekitar, dan leluhur. “Ketika kita membaca kembali catatan-catatan seperti milik Lemei, kita sebenarnya sedang belajar bahwa masyarakat dahulu punya logika sendiri yang tidak kalah rasional untuk konteks zamannya,” tutupnya.

Editor: Oscar Fraby

Editor : Arief
#Budaya #Banjar #Sejarah #tradisi