Tahulah Pian. Nama Kelayan sudah lama melekat dalam kehidupan warga Kota Banjarmasin. Bukan sekadar penanda wilayah, Kelayan juga menyimpan sejarah panjang yang diyakini berasal dari masa kolonial Belanda.
Kini, nama tersebut digunakan untuk lima kelurahan dan dua ruas jalan di Banjarmasin, namun jejak asal-usulnya jauh lebih tua dari itu.
Kelayan dikenal sebagai kawasan permukiman padat dengan jaringan gang kecil yang sebagian berdiri di atas garis hijau sungai. Pemekaran wilayah mulai terjadi pada 1990, ketika Kelurahan Kelayan Barat resmi dipisahkan dari Kelayan Dalam. Tiga kelurahan lain meliputi, Kelayan Timur, Kelayan Tengah, dan Kelayan Selatan, menyusul menjadi bagian administratif.
Selain itu, dua ruas jalan, yakni Jalan Kelayan A dan Kelayan B, juga menjadi bagian penting dari struktur wilayah Banjarmasin Selatan. Keduanya dipisahkan oleh aliran Sungai Kelayan yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Catatan sejarah mengenai Kelayan tercantum dalam Buku Bandjarmasin karya Idwar Saleh. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa Kelayan bukan sekadar nama kelurahan modern, melainkan wilayah yang telah eksis sejak masa penjajahan Belanda.
Sejarawan sekaligus akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Mursalin Arlong, menjelaskan bahwa Kelayan diyakini berawal dari sebuah terusan atau antasan. “Ketika Belanda masuk, wilayah Banjarmasin terbagi dua, kawasan yang dihuni orang Belanda dan kawasan pribumi serta Kerajaan Banjar,” ujarnya, Senin (8/12).
Ia menyebutkan, kawasan yang kini menjadi Jalan Lambung Mangkurat hingga bekas kantor gubernur lama merupakan wilayah permukiman Belanda. Sementara itu, Sungai Kelayan, Antasan Kuin, Muara Cerucuk hingga Sungai Barito merupakan wilayah masyarakat pribumi dan Kesultanan Banjar.
“Ini menyiratkan bahwa daerah-daerah tersebut, termasuk Kelayan, merupakan perkampungan pribumi sejak lama,” jelasnya.
Arsip perjanjian antara Belanda dan Kesultanan Banjar juga mencatat nama Kelajan (ejaan lama dari Kelayan). Dokumen tersebut berasal dari tahun 1845, pada masa pemerintahan Sultan Adam. “Dalam perjanjian dengan Sultan Adam disebutkan nama Kelayan. Ini menjadi bukti bahwa Kelayan sudah ada sejak pertengahan abad ke-19,” papar Mursalin.
Ia menyimpulkan bahwa Kelayan merupakan perkampungan tua yang bermula dari jalur terusan sungai, kemudian menjadi bagian wilayah Kesultanan Banjar. “Sekarang berkembang menjadi permukiman masyarakat,” tutupnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief