Tahulah Pian. Di pesisir Muara Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, berdiri sebuah mercusuar tua peninggalan Belanda yang masih aktif hingga kini. Mercusuar Tanjung Petang, dibangun pada 1910, telah berusia lebih dari satu abad namun tetap berfungsi sebagai penuntun kapal di perairan Pagatan.
Pada masa kolonial, pemerintah Belanda membangun jaringan mercusuar di berbagai wilayah Nusantara untuk menstandarkan navigasi, mengurangi kecelakaan laut, dan memperlancar pengiriman logistik.
Pagatan dipilih karena letaknya strategis di pesisir yang terhubung dengan Selat Laut, jalur penting yang menghubungkan Pulau Kalimantan dengan Pulau Laut, menuju Selat Makassar dan Laut Jawa. Kondisi ini menjadikan Pagatan salah satu titik ramai pelayaran sejak masa kolonial.
Baca Juga: Terbitan Belanda, Prangko Tertua Pernah Beredar di Banjarmasin di Tahun 1866
Mercusuar Tanjung Petang berdiri sekitar 300 meter dari jalan poros Desa Muara Pagatan. Menara setinggi 25 meter ini memancarkan cahaya yang dapat terlihat hingga 30-40 mil laut. Dengan sistem manual berbasis mesin diesel, mercusuar tetap menjadi penuntun kapal, terutama saat GPS bermasalah atau cuaca menghalangi pandangan.
Cahaya suar tidak hanya menunjukkan arah, tetapi juga memberi informasi penting bagi nakhoda: posisi daratan, jalur aman, serta titik berbahaya seperti karang dan perairan dangkal. Pada malam hari maupun saat badai, mercusuar ini menjadi penentu keputusan navigasi kapal.
Di sekitar menara, masih berdiri bangunan kolonial lain, seperti rumah jaga tentara Belanda dan penampungan air hujan berukuran besar. Kawasan ini menjadi salah satu jejak arsitektur Hindia Belanda yang masih utuh hingga kini, menambah nilai sejarah bagi masyarakat setempat.
Meski berusia lebih dari 100 tahun, Mercusuar Tanjung Petang masih dioperasikan oleh Kementerian Perhubungan. Perannya sebagai penjaga keselamatan pelayaran di perairan Pagatan belum tergantikan, menjadikannya simbol penting warisan sejarah sekaligus penopang aktivitas maritim modern.
Menurut Muhammad Alwi, warga Kusan Hilir, kawasan sekitar mercusuar dulunya sering menjadi tempat bersantai para pemuda. Mereka biasa duduk di sepanjang pemecah ombak untuk menikmati angin laut.
Namun, beberapa tahun terakhir aktivitas itu sudah jarang terlihat. Pembangunan kawasan pesisir Pagatan yang bergeser ke titik-titik lain membuat warga lebih memilih lokasi baru yang lebih menarik dan mudah dijangkau. “Sekarang sepi. Dulu ramai anak muda nongkrong di situ, tapi sudah tidak lagi,” ujarnya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief