Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Ujung Panti, Dulunya Kawasan Rawan Perampokan

Maulana Radar Banjarmasin • Rabu, 3 Desember 2025 | 11:20 WIB

 

Photo
Photo

Tahulah Pian. Kawasan yang kini dikenal dengan nama Ujung Panti di Desa Berangas Barat, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, menyimpan jejak sejarah panjang. Nama ini tidak hanya populer di Batola, tetapi juga akrab bagi masyarakat Banjarmasin. Bahkan, sebutan Ujung Panti telah diabadikan sebagai nama jalan.

Namun, istilah Ujung Panti baru digunakan sejak sekitar tahun 1984–1985. Sebelumnya, kawasan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Tanjung atau Murung. Secara geografis, tanjung merupakan daratan tinggi yang menjorok ke perairan dan dikelilingi air di tiga sisinya, sehingga menjadi titik penting navigasi sungai.

Ujung Panti terletak tak jauh dari Pulau Bakut dan Jembatan Barito, berada di pertemuan tiga anak sungai Barito Kuala termasuk Sungai Anjir, serta dekat kawasan wisata Pulau Curiak. Pada masa lalu, kawasan ini masih berupa hutan belantara dan dikenal rawan aksi perompakan.

Salah satu tokoh pembuka lahan di wilayah tersebut adalah Erman, seorang veteran. Putranya, Akhmad Bani (Anggota Komisi III DPRD Barito Kuala) mengenang, kawasan itu dulu menjadi tempat singgah kapal-kapal dari Kalimantan Tengah. “Kapal datang dari Muara Teweh, Palangkaraya, dan daerah lain. Mereka beristirahat, makan, dan menambatkan kapal di dahan pohon di tepi sungai,” ujarnya.

Karena sering terjadi gangguan keamanan, dibangunlah pondokan di atas sungai. Seiring waktu, berdiri pula sejumlah fasilitas, mulai dari pos Dinas Perhubungan, retribusi cukai daerah, hingga Pos Unit Ditpolairud Polda Kalsel. Kawasan ini pun semakin ramai disinggahi kapal penumpang maupun kapal barang.

Seiring berkembangnya permukiman dan tumbuhnya industri kayu di sekitar kawasan, sebutan Tanjung atau Murung perlahan ditinggalkan. Masyarakat lebih akrab menyebutnya Ujung Panti, nama yang melekat hingga kini. “Sekitar tahun 1984–1985, penyebutan Murung atau Tanjung mulai hilang dan berganti menjadi Ujung Panti,” pungkas Akhmad Bani.

Editor : Muhammad Rizky
#Tahulah Pian #Perampokan #Sejarah