Tahulah Pian. Desa Baramban, yang kini dikenal sebagai “pintu timur” Kabupaten Tapin, menyimpan sejarah panjang tentang pemukiman, perpindahan penduduk, dan dinamika kehidupan masyarakat di kaki Pegunungan Meratus.
Tidak banyak yang tahu, desa yang belakangan ramai diperbincangkan karena kawasan karst dan gua-gua alaminya ini, dulunya merupakan bagian dari Desa Miawa. Rustan Nawawi, mantan Kepala Desa Baramban, menuturkan bahwa Baramban lahir dari proses pemekaran wilayah. “Awalnya ini masih wilayah Desa Miawa. Setelah penduduk makin ramai, akhirnya dimekarkan menjadi dua desa. Pemekaran itu sekitar tahun 1980,” ujarnya.
Jejak kehidupan masyarakat Baramban sudah ada jauh sebelum pemekaran administratif. Tahun 1974 menjadi titik penting ketika gelombang transmigrasi dari Pulau Jawa datang ke wilayah ini. Para transmigran membuka hutan, membangun rumah, bercocok tanam, dan menetap.
Kehadiran mereka menarik orang-orang Banjar lokal untuk ikut tinggal di kawasan yang kala itu masih sepi. Perpaduan dua kelompok inilah yang kemudian menjadi fondasi sosial penduduk Baramban hari ini. Nama Baramban diyakini merujuk pada kondisi alamnya. Deretan gunung karst yang retak dan terbelah, disebut warga sebagai “pagat”. Menjadi identitas desa.
Gunung Pagat Baramban, Pagat Tarungin, dan Pagat Baramban Dalam membelah wilayah hingga tembus ke Desa Miawa. Dari gunung-gunung pagat inilah ditemukan gua-gua besar yang kelak menjadi ikon wisata Tapin.
Setelah resmi menjadi desa otonom, Baramban berkembang menjadi pusat permukiman di bagian timur Tapin. Berdasarkan data 2017, desa ini memiliki 911 jiwa dengan 296 kepala keluarga, tersebar di lima RT. Mayoritas warganya berprofesi sebagai petani dan pekebun, ditopang oleh tanah subur dan lahan luas.
Pendidikan dan keagamaan juga tumbuh dengan baik. PAUD, TK, SD, SMP hingga TPA tersedia di desa tersebut. Kegiatan keagamaan seperti pengajian, ceramah, dan peringatan hari besar rutin digelar dari satu langgar ke langgar lainnya.
Secara geografis, Baramban berbatasan dengan Desa Linuh Kecamatan Bungur, Desa Buniin Jaya, Desa Miawa, dan Desa Binderang. Lokasinya sekitar 13 kilometer dari Kota Rantau, sekaligus menjadi gerbang masuk ke Kecamatan Piani.
Baramban dikenal luas karena kawasan gua karstnya. Gua Air, Gua Macan, Gua Landak, Gua Berangin, Gua Babi, hingga Gua Kelelawar berada di perut pegunungan karst Baramban. Penemuan gua ini terjadi pada awal 1980-an, ketika seorang warga mencari batu gunung dan tak sengaja menemukan rongga besar. Sejak itu, gua-gua diberi nama sesuai lokasi penemuan.
Pada era 1990-an, Gua Baramban sempat menjadi objek wisata lokal yang ramai dikunjungi. Berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari acara sekolah hingga kegiatan keagamaan, pernah dilaksanakan di area tersebut. Namun, empat dekade berlalu, geliat wisata itu meredup akibat keterbatasan fasilitas, kurangnya pengelolaan, dan minimnya pembaruan.
Meski begitu, pada 2018 kawasan ini masuk sebagai geosite Geopark Meratus. Pemerintah Kabupaten Tapin telah menyusun Detail Engineering Design (DED) pengembangan dengan rencana pembangunan area parkir, gerbang, taman rekreasi, hingga jalur wisata di lahan seluas 4,5 hektar.
Rustan menyampaikan, bahwa Baramban telah melewati banyak fase perubahan, termasuk saat dirinya menjabat sebagai kepala desa selama tiga periode. Dari desa hasil pemekaran, Baramban kini tumbuh menjadi desa strategis dengan potensi alam besar, masyarakat heterogen, serta harapan untuk kembali bangkit sebagai pusat wisata karst Tapin.
Editor : Muhammad Rizky