Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Salah Satu yang Tertua, Sekolah Widya Dharma Banjarmasin Sudah Berusia Lebih Seabad

Maulana Radar Banjarmasin • Selasa, 25 November 2025 | 09:08 WIB

 

BERUSIA TUA: Para siswa beraktivitas di halaman Widya Dharma School. (Maulana)
BERUSIA TUA: Para siswa beraktivitas di halaman Widya Dharma School. (Maulana)

Tahulah pian, di Kota Banjarmasin terdapat sebuah sekolah yang usianya telah lebih dari satu abad. Sekolah itu bernama Widya Dharma School. Berada di Jalan Bandarmasih, Kompleks DPR No. 4, Banjarmasin Barat. Lokasi ini menjadi tempat terakhir setelah beberapa kali berpindah. Sekolah ini termasuk salah satu yang tertua di Indonesia.

Awalnya, sekolah ini berada di Jalan Piere Tendean, Banjarmasin Tengah (lokasi awal SMPN 6 Banjarmasin), kemudian ke Jalan Veteran, Banjarmasin Tengah. Kini menjadi kawasan Fakultas Kedokteran ULM Banjarmasin.

Sekolah ini berdiri pada tahun 1905. Memasuki tahun 2025, usianya telah mencapai 120 tahun. Pada masa awal berdirinya, sekolah tersebut dikenal sebagai pusat pendidikan bagi warga keturunan Tionghoa di Banjarmasin. Masyarakat kala itu menyebutnya dengan nama "Mahua". Sebuah sebutan yang memiliki makna khusus bagi komunitas yang pernah menimba ilmu di sana.

Djohan Jawonoe, Bendahara Yayasan Makmur Harmonis Sentosa, Widya Dharma School Banjarmasin, menjelaskan bahwa istilah Mahua memang sangat akrab bagi warga Tionghoa Banjarmasin. 

Dalam bahasa Mandarin sebutnya, "Ma" adalah Majhen, yang berarti Kota Banjarmasin, sedangkan "Hwa" berarti orang Tionghoa. Dengan demikian, Mahua bermakna "sekolahnya orang Tionghoa Banjarmasin".

Kini, nama sekolah tersebut telah berubah menjadi Widya Dharma School. Unit pendidikannya mencakup Kelompok Belajar (KB), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Djohan menjelaskan, bahwa saat ini sekolah telah berstatus sekolah nasional, sehingga tidak hanya menerima siswa keturunan Tionghoa. Tetapi terbuka untuk peserta didik dari berbagai suku dan agama.

Perjalanan sekolah ini sempat terhenti setelah keluarnya Inpres 14/1967 yang membatasi agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Instruksi tersebut melarang penggunaan bahasa Mandarin di ruang publik, menutup sekolah-sekolah Mandarin, serta melarang papan nama dan kegiatan budaya Tionghoa. Karena itu, sejak tahun 1967, kegiatan pendidikan Mahua terpaksa vakum.

Setelah tiga dekade, situasi berubah ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengeluarkan Keppres 6/2000 pada 17 Januari 2000, yang mencabut Inpres 14/1967. Barulah pada tahun 2003, para alumni Mahua bertekad menghidupkan kembali sekolah ini di lokasi yang sekarang, di jalan Bandarmasih Kompleks DPR Rawa Sari No. 4, Banjarmasin Barat.

Sebelumnya, Mahua sempat berkegiatan di Jalan Kapten P. Tendean. Tepat di seberang Klenteng Soetji Nurani (eks SMPN 6 Dahlia), yang kini telah menjadi lapangan basket. Karena ruang kelas tidak lagi mencukupi, Mahua kemudian berpindah ke Jalan Veteran, lokasi yang sekarang menjadi Kampus Fakultas Kedokteran ULM, serta pernah menggunakan gedung Chu Hwa Chung Hui di Jalan Pangeran Samudera, samping Gang Penatu, khusus untuk kegiatan kelas Taman Kanak-kanak.

Kini, dalam usianya yang mencapai 120 tahun, Widya Dharma School mengembangkan program pembelajaran tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin. “Untuk perayaan ke-120 ini, temanya adalah tradisi dan budaya Mahua dari generasi ke generasi. Selamat Ulang Tahun Mahua, Jia you, jia you, jia you! ( yang artinya semangat  untuk semuanya),” tutupnya.

Editor : Arief
#Sekolah #banjarmasin #Sejarah