Tahulah Pian. Di tengah modernitas yang terus bergerak maju, masyarakat Banjar masih menyimpan dan memegang teguh berbagai kepercayaan lokal yang diwariskan turun-temurun. Salah satunya adalah mitos tentang menabrak kucing di jalan yang diyakini dapat mendatangkan kesialan. Sebelum akhirnya “ditebus” dengan gadang pisang.
Budayawan Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, menjelaskan bahwa dalam budaya dan kepercayaan orang Banjar, kucing menempati posisi yang istimewa. Hal tersebut berkaitan dengan keyakinan bahwa kucing merupakan hewan yang disukai oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga dipandang sebagai makhluk yang harus disayangi dan dihormati.
“Bagi orang Banjar, memperlakukan kucing dengan baik itu berpahala. Kucing dianggap sahabat yang sering berkeliaran di sekitar rumah, masjid, bahkan di jalanan. Maka ketika ada kucing yang tertabrak, khususnya sampai mati, itu bukan sekadar kejadian biasa, tapi dianggap membawa dampak secara spiritual dan psikologis,” tutur Ersa.
Dalam mitos yang berkembang, seseorang yang menabrak kucing hingga mati diyakini akan mengalami kesialan. Bentuknya bisa beragam, mulai dari kendaraan sering mogok, rusak, hingga mengalami kecelakaan, atau munculnya gangguan dan kesulitan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menghindari atau “menebus” kesialan tersebut, dikenal sebuah ritual sederhana. Yakni melindas gadang pisang (batang pisang, red) menggunakan ban kendaraan yang sama dengan yang menabrak kucing. Proses ini biasanya dilakukan sebanyak tiga kali, sebagai simbol penangkal dan penebus nasib buruk.
“Secara simbolik, gadang pisang dianggap mewakili pengganti atas nyawa kucing yang telah hilang. Tapi kalau kita lihat dari sisi psikologis, ini sebenarnya lebih kepada upaya menenangkan diri dan menghilangkan rasa bersalah serta cemas dari orang yang menabrak,” jelasnya.
Tak hanya itu, ada pula kepercayaan lanjutan yang menyebutkan bahwa bangkai kucing yang tertabrak harus segera diangkat menggunakan baju yang dikenakan saat kejadian, lalu dikuburkan bersama baju tersebut. Hal ini diyakini sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus penghormatan terakhir kepada hewan tersebut.
“Bagi masyarakat tradisional, tindakan itu bukan soal benar secara logika, melainkan cara mereka memulihkan keseimbangan batin setelah merasa bersalah karena telah menghilangkan nyawa makhluk hidup,” tambahnya.
Meski tidak memiliki dasar ilmiah, mitos ini masih terus hidup di tengah masyarakat Banjar. Menjadi bagian dari warisan budaya yang menunjukkan bagaimana nilai spiritual, agama, dan lingkungan saling berkaitan dalam kehidupan masyarakat lokal.
Di era modern, mitos tersebut setidaknya mengajarkan satu hal penting. Menghargai kehidupan, sekecil apa pun bentuknya, serta mengingatkan manusia untuk selalu berhati-hati dan penuh empati, bahkan saat berada di jalan raya.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief