Tahulah Pian. Sejarah perposan di Kalsel mencatat sebuah peristiwa penting pada tahun 1866. Saat itu, prangko pertama diketahui beredar di Banjarmasin.
Ini menjadi pelengkap surat yang dikirim dari Batavia menuju Residen Afdeeling Borneo bagian Selatan dan Timur di Bandjermasin (nama Banjarmasin tempo dulu).
Ahli sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur mengungkapkan temuan ini berdasarkan riset dan kompilasi surat-surat masa Hindia Belanda. “Fakta ini menunjukkan prangko tertua yang pernah menghiasi surat ke Banjarmasin berangka tahun 1866,” ujar Mansyur.
Baca Juga: Mengenal Reinigingsdienst, Dinas Kebersihan Era Kolonial Belanda
Bukti yang dimiliki Mansyur berupa amplop surat dengan prangko menempel di sudut kiri atas. Surat itu dikirim dari Batavia pada 29 Desember 1866, ditujukan kepada Residen Zuid en Ooster Afdeeling van Borneo te Bandjermasin.
Menariknya, surat tersebut sebenarnya ditulis lebih awal di Arnhem, Belanda, pada 15 November 1866. Setelah itu, surat dikirim ke Batavia sebagai bagian dari paket surat, sebelum akhirnya diteruskan ke Banjarmasin.
Mansyur menjelaskan, Negeri Belanda pertama kali menerbitkan prangko pada 1852, berupa prangko bergambar Raja Willem III senilai 5 cent berwarna biru tanpa perforasi. Namun, prangko itu hanya berlaku di Belanda.
Seiring meningkatnya lalu lintas surat antara Belanda dengan jajahannya, pada 1864 diterbitkan prangko pertama khusus Nederland Indie. Dua tahun kemudian, prangko tersebut mulai masuk ke Banjarmasin. “Menandai babak baru dalam sejarah perposan di Kalsel,” katanya.
Sebelum prangko hadir, biaya pengiriman surat dibayar tunai, baik oleh pengirim maupun penerima. Sistem ini sering menyulitkan kedua belah pihak. “Prangko akhirnya dijadikan pengganti alat pembayaran, sehingga transaksi kirim-mengirim surat menjadi lebih mudah,” terang Mansyur.
Editor: Eddy Hardiyanto
Editor : Arief