TAHULAH PIAN. Tebing batu hitam menjulang di tepian Waduk Riam Kanan, Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio. Sekilas tampak tandus dan dingin. Namun, di balik sisa Gunung Api Purba Bawah Laut berusia ratusan juta tahun itu, tumbuh subur pepohonan durian, mangga, hingga cempedak.
Kepala Desa Tiwingan Baru, Rudiansyah, menuturkan warga di desanya tak pernah merasa terhalang oleh keberadaan batuan keras tersebut. Justru di sela-sela batu, mereka menanam buah dan sayuran. “Tanahnya subur meski banyak batu besar. Kalau batunya dipukul, tidak pecah. Tapi pohon tetap bisa tumbuh di sampingnya,” ujarnya.
Rumah-rumah panggung warga pun berdiri di sekitar batuan besar, seakan tak tergeser oleh waktu. Keunikan ini menambah daya tarik desa yang juga memiliki objek wisata Pulau Pinus dan Bukit Batas, dahulu dikenal sebagai Raja Lima Kalsel.
Kini, kawasan Tiwingan Baru resmi menjadi bagian dari Geopark Pegunungan Meratus, yang pada Juni 2025 diakui UNESCO sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Penetapan ini diharapkan membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian alam.
Selain menjadi lokasi penelitian geologi dan arkeologi, kawasan ini dikembangkan sebagai wisata edukasi geopark. Dari dermaga Tiwingan Lama, wisatawan dapat menempuh perjalanan sekitar 30 menit dengan kelotok untuk melihat langsung Gunung Api Purba Bawah Laut dan pulau-pulau bersejarah di tengah waduk.
Danau Riam Kanan seluas 8.000 hektare, bagian dari Tahura Sultan Adam, bukan hanya sumber air dan energi. Kawasan ini juga menyimpan jejak peradaban manusia purba. Ali Mustofa, Kabid Geologi Dinas ESDM Kalsel sekaligus ahli geologi Badan Pengelola Geopark Meratus, mengungkapkan penemuan artefak batu di Pulau Sirang pada 2023. “Ditemukan kapak perimbas, kapak genggam, proto pahat genggam, batu inti, serpih, bilah, hingga batu pukul. Semua kini tersimpan di Museum Lambung Mangkurat,” jelasnya.
Pulau Sirang dulunya daratan tinggi di pertemuan tiga sungai sebelum tenggelam akibat pembangunan waduk. Kawasan ini tersusun dari batuan malihan berumur 180–135 juta tahun, bagian dari perjalanan panjang geologi Meratus.
Selain artefak, dinding batu besar di tepi Tahura Sultan Adam diyakini sebagai sisa magma beku dari gunung api bawah laut berusia sekitar 160 juta tahun. “Siapa bilang Kalimantan tidak punya gunung api? Ini buktinya. Memang sudah mati, tapi kandungan batuannya jelas hasil aktivitas vulkanik laut purba,” ungkap Ali.
Tebing batu hitam di Tiwingan Baru kini ditetapkan sebagai Situs Geopark Meratus nomor 31. Batuannya berupa breksi vulkanik, terbentuk dari benturan kerak bumi di dasar samudera yang terangkat ke permukaan 200–150 juta tahun lalu. “Setiap batu di Meratus adalah cerita bumi. Yang menarik, di Riam Kanan, batu-batu itu justru membawa kesuburan luar biasa,” pungkas.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief