Tahulah Pian. Masjid Pusaka Benua Lawas di Kecamatan Bemua Lawas yang berdiri sejak tahun 1625 lalu dan menjadi salah satu cagar budaya di Kabupaten Tabalong, ternyata menyimpan bedug atau dauh berusia ratusan tahun.
Bedug pusaka itu tersimpan rapi di sudut pelataran kiri masjid, tepat pada bagian yang mengarah ke sungai Tabalong. Sekilas, bedug terlihat sebagaimana biasa. Karena letaknya layaknya bedug pada umumnya, yang disangga empat balok. Dibalik itu, ternyata memiliki kisah yang panjang.
Menurut cerita Kaum Masjid Pusaka Benua Lawas, Saberan, bedug tersebut dibuat dari kayu yang terbawa aliran sungai Tabalong. “Kayu yang dipergunakan untuk Mesjid Pusaka ini adalah kayu yang larut atau dibawa arus sungai dari hulu hutan pedalaman,” katanya.
Anehnya, sesampai di persimpangan sungai atau pertemuan antara sungai besar Wangi atau sungai kecil Babau yang membentuk pusaran, kayu tersebut hanya berputar di sana. Tidak hanyut ke tempat lain. "Tetap berputar-putar di situ saja mengikuti pusaran air,” ceritnya Saberan.
Warga setempat memperhatikan kejanggalan itu, lalu mengambil kayu tersebut. Ketika sudah berada di permukaan tanah, ternyata bagian tengahnya sudah berlubang. Dengan bentuk itu, warga akhirnya menjadikan kayu temuan itu sebagai bedug. Secara kebetulan, Masjid Pusaka peninggalan Khatib Dayan tersebut tidak memiliki bedug untuk memanggil jemaah untuk melaksanakan salat.
“Bentuk dan ukurannya sudah pas dan sudah berlobang. sehingga tidak perlu memotong atau membuat lubang lagi,” paparnya.
Menurut buku rekomendasi tim ahli cagar budaya Kabupaten Tabalong, kayu bedug tersebut sudah berusia ratusan tahun. Dan menjadi salah satu benda bersejarah yang perlu dijaga keberadaannya.
Kini, bedug teserbut tak hanya dipakai sebagai penanda tibanya waktu salat lima waktu, juga digunakan dalam kegiatan lain. Seperti begarakan sahur dan takbiran.
Editor: Oscar Fraby
Editor : Arief